KEAJAIBAN AKAL MANUSIA
ISLAM MENGUTAMAKAN AKAL BUKAN AYAT
Imam Abu Ja'far (Muhammad al-Baqir As) bersabda:
"Ketika Allah Swt menciptakan akal Dia mengajaknya
berbicara, kemudian Dia berkata kepadanya: "menghadaplah, akalpun menghadap.
Kemudian Dia berkata lagi kepadanya: berpalinglah,
akalpun berpaling. Setelah itu Dia berkata: Demi kemuliaan- Ku dan
keagungan-Ku, Aku tidak menciptakan satu makhluk pun yang paling Aku cintai
selainmu dan Aku tidak akan menyempurnakanmu kecuali pada orang yang Aku cintai.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Aku hanya memerintahkanmu dan hanya mencegahmu,
dan hanya kepadamu Aku menyiksa dan hanya kepadamu Aku memberi ganjaran".
Berikut ini perhatikanlah baik-baik penjelasan singkat
dan sederhana mengenai hadis di atas.
Penjelasan sederhana ini disesuaikan dengan kemampuan nalar awam dan kebanyakan
manusia yang belum pernah mempelajari filsafat dan ilmu-ilmu akliyah lainnya.
Makhluk Allah Swt ada dua macam, ada yang bersifat materi
seperti badan manusia, hewan, tumbuhan, dll, dan ada yang bersifat nonmateri
seperti ruh, malaikat, setan, dll. Akal termasuk ciptaan Allah Swt yang
bersifat nonmateri.
Akal adalah makhluk Allah Swt yang betul-betul mantaati
segala perintah-Nya dan menjauhkan seluruh larangan-Nya. Hal itu sebagaimana
telah diuji oleh Allah Swt ketika Dia menyuruhnya untuk taat hanya kepada-Nya
dan berpaling dari selain-Nya. Karena itu dia makhluk yang paling dicintai oleh
Allah Swt sehingga menjadi imam dan pemimpin bagi makhluk-makhluk yang lainnya. Tentu saja ungkapan “mengahdap” dan
“berpaling” bukan ungkapan yang haqiqi, tetapi sebagai kinayah. Jika Anda ingin
memahaminya lebih dalam lagi, silahkan telaah kitab yang ditulis oleh Imam
Khomeini Ra, judulnya “Junudul Aqli wa Junudul Jahli”.
Seseorang akan dicintai oleh Allah Swt ketika ia betul-betul
menggunakan akalnya. Dan ia tidak akan menjadi manusia sempurna kecuali dengan
menggunakan akalnya secara maksimal. Seseorang senantiasa akan berbuat dan
berlaku baik selama ia menggunakan akalnya. Dan akan menjadi jahat dan zalim
ketika tidak lagi menggunakan akalnya dan mengikuti hawa nafsunya.
Sejauh mana baik dan buruk atau jahatnya seseorang itu,
tergantung sejauh mana ia menggunakan akalnya dan mengikuti hawa nafsunya. Akal
itu akan semakin tinggi dan mulia jika dibarengi dengan ilmu pengetahuan.
Semakin tinggi akal seseorang, maka ia semakin mulia dan dicintai oleh Allah
Swt. Dan ia akan menjadi jahat, buruk dan terpuruk ke neraka jahannam ketika
terus mengikuti hawa nafsunya.
Ulama hikmah memiliki beberapa pandangan dalam mengartikan akal
di dalam riwayat yang mulia ini. Akal disini maksudnya adalah an-Nafs
an-Nathiqah yang bersifat nonmateri dalam zatnya tetapi dalam perbuatannya
bergantung kepada fisik dan materi. Dia (akal) dinamakan sebagai an-Nafs
dilihat dari sisi kebergantungannya kepada badan, dan dinamakan akal dilihat
dari sisi tajarrud dan kenonmateriannya dan hubungannya dengan alam al-Quds.
Yang jelas bahwa akal adalah makhluk Allah Swt yang sangat mulia dan bersifat
nonmateri.
Imam Musa bin Ja'far pernah bersabda: "Barangsiapa
yang ingin kaya tanpa harta, ingin tenang hatinya dari sifat hasad dan ingin
selamat dalam agamanya, maka hendaknya ia memohon secara tulus kepada Allah Swt
agar Dia menyempurnakan akalnya"[1].
Makna lain dari akal di dalam hadis ini adalah: Akal
Nabawi dan Hakikat Muhammadiyyah yakni ruh yang agung. Setelah Allah Swt menciptakannya
Dia berkata kepadanya: menghadaplah! Maksudnya adalah turunlah ke muka bumi
sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta dan sebagai pembimbing seluruh umat
manusia. Maka Akal Nabawi itupun segera menghadap dan mentaati perintah
Maulanya Allah Swt. Allah Swt juga berkata kepadanya: Berpalinglah! Yakni
berpalinglah dari genmerlap dunia dan kemaksiatan dan hadapkanlah wajahmu dan
perhatianmu hanya kepada Allah Swt. Maka Akal Nabawi itu pun berpaling dari
tipu daya dan bujuk rayu dunia. Karena itu kemudia Allah Swt memuliakan,
menghormati dan mencintainya sebagaimana pernyataan-Nya: "Sesungguhnya
engkau adalah makhluk-Ku yang paling Aku cintai". Dan "setiap orang
akan beruntung, selamat dan bahagia serta akan mencapai kesempurnaan
insaniahnya ketika betul-betul mengikuti dan mentaatimu". Dan "dengan
melaluimu Aku perintahkan seluruh umat manusia untuk mentaati-Ku dan melaluimu
juga aku cegah mereka untuk menjauhkan
seluruh larangan-Ku. Dan "Aku akan menyiksa setiap orang yang menentang-Ku
dan menentangmu dan Aku akan memberikan pahala dan surga kepada setiap orang
yang mentaati-Ku dan mengikutimu. Karena engkau adalah sebab terciptanya
seluruh makhluk-Ku. Jika sekiranya tidak karenamu, niscaya Aku tidak akan
menciptakan seluruh alam raya ini.
Ala kulli hal, hadis mulia ini mengandung arti, makna dan
maksud yang sangat dalam dan luas sehingga untuk memahaminya lebih dalam lagi,
perlu penjelasan ulama hikmah yang hatinya diterangi oleh Allah Swt dengan amal
ibadah, perbuatan dan tingkah lakunya yang saleh. Bukan ulama hikmah atau
filsuf yang pandai mendemonstrasikan berbagai argumen filsafatnya hanya dalam
lisannya belaka, sementara akhlaknya di mata masyarakat tidak dipandang karimah
dan terpuji. Semoga Allah Swt menjauhkan kita dari akhlak yang buruk dan tidak
terpuji.[]
Disinilah menurut saya diperlukan konsistensi apa yang kita pikirkan
dengan apa yang kita perbuat, hendaknya kita bisa memurnikan akal kita sehingga
menjadi benar-benar jernih tidak tersekat pada
batasan apapun, mau menerima hal-hal baru, dan beragumentasi berdasarkan
keilmuwan bukan berdasarkan emosi. Berangkat dari riwayat imam musa bin jafar
tentang menyempurkan akal selayaknya kita mesti terus dan menerus belajar dan
belajar dari berbagai sudut pandang tanpa melihat kecacatan berbagai macam
perbedaan.
Melihat kondisi umat islam sekarang ini bisa dibilang sangat sedikit
umat islam yang menyempurnakan akalnya yang ada adalah berusaha menyempurkan
ibadahnya yang hanya bersifat ritual dan kefanatikannya pada suatu kamu serta
sibuk berpikir bagaimana membentuk zaman ideal dengan sistem yang tidak ada
kelemahan tanpa pernah berpikir bagaimana membentuk akal yang ideal untuk kemudian memberi
kontribusi pada peradaban.
Dengan pencapaian kesempurnaan akal bisa mengakibat umat islam lebih
sadar diri dan tidak mudah tersulut emosi ironis melihat bahwa banyak orang
islam yang pintar namun hanya sekedar pintar tapi tidak mampu menyeimbangkan
yang kalau menurut seorang psikolog asal
jerman sigmund freud id,ego, dan superego. Sehingga rajinnya ibadah berbanding
terbalik dengan sikapnya pada lingkungan dia selalu menjadi individu yang
aragon, terjebak fanatisme sempit, ataupun mudah di hasut bahkan munafik.
Kalau dikaji dari berbagai macam aliran psikologi pentingan kesempurnaan
akal lebih utama dari pada penting menjalankan ritual atuapun hafal hadis
karena yang bersifat ritual itu tidak 100 % merubah kita menjadi manusia
bermoral kalau sekadar dilakukan karena waktu ibadahnya sudah tiba atau sekadar
rutinitas tanpa pemahaman.
Bagaimana bisa sesuatu yang kita lakukan hanya sebagai rutintias tanpa
pemahaman dan pemaknaan bisa menjadikan diri kita individu yang lebih baik
karena kita harus melihat kenyataan bahwa banyak orang islam yang menjalani
ritual dan hafal fasih ilmu agamaa tapi mereka tidak mampu mengatasi depresi di
dalam diri mereka,tidak mampu mengontrol emosi mereka,nafsu mereka, terjebak
dalam fanatisme sempit, berburuk sangka, ataupun hal lainnya .
Disinilah kita berbicara masalah kurang adanya kesadaran dalam diri
karena yang ditekankan selama ini hanya pengetahuan agama yang ditekankan hafal
berbagai ayat maupun hadis tapi tidak belajar bagaimana caranya berpikir
berdasarkan agama,merenungkan nilai-nilai agama, dan menerapkan ajaran agama
makanya pemahaman agamanya hanya sebatas dokrinisasi bukan berdasarkan
keilmuwan.
Kurangnya kontrol diri pada banyak umat islam tidak bisa diatasi hanya
dengan sholat ,ngaji, hadir diceramah-ceramah, ikut liqo, nangis-nangis diacara
pengajian,berzikir,bersholat,atau apalah hal lainnya.memang banyak yang berkata
sholat mencegah dari perbuatan mungkar namun kalau dipahami lagi disitukan
dikatakan hanya mencegah, arti kata mencegah adalah mengantisipasi yang akan
terjadi, mencegah itu kan hasilnya bisa 50-50 bisa berhasil tercegah bisa juga
tidak kenyataan banyak yang rajin sholat tapi setelah itu dia berbuat kejahatan.
Harusnya kita jangan hanya bicara masalah mencegah tapi bagaimana
mengatasi melihat kenyataan kini bukan belajar mencegah tapi belajar mengatasi.
Lalu bagaimana mengatasi kerusakan moral, kurangnya kontrol diri, sikap
munafik, apalagi fanatisme sempit atau hal- hal lainnya yang merusak moral ada
beberapa solusi yang perlu dipertimbangan ubah mindset dari hanya belajar
pengetahuan agama menjadi belajar bagaimana caranya berpikir berdasarkan ajaran
agama yang berbasiskan pada kerohanian bukan pada pengetahuan teologi semata,
merenungkan nilai-nilai rohani keagamaan, memasyarakatkan keberanian moral
berani untuk mengkritik dan berbeda pendapat dan tidak mendukung
kesalahan-kesalahan umat agama sendiri, menerapkan nilai-nilai rohani dalam kehidupan. Haruslah berubah mindset
daripada mengusahakan kesempurnaan pengusaaan ilmu agama maupun ritual haruslah
mengusahakan kesempurnaan akal, untuk memperoleh kesempurnaan akal maka harus
dibutuhkan suatu pola pikir dalam pembelajaran yang luas tidak tersekat pada
apapun.
Ini
sekadar perenungan saya bagi saya islam tidak mengutamakan ayat apalah artinya
ayat itu hanya teori saja tanpa belajar agama pun kita tahu mencuri itu haram
tidak perlu untuk menafsirkan yang rumit yang perlu kita pelajari sekarang
adalah bagaimana caranya berpikir,merenungkan,dan menerapkan dan berani untuk
mengreinterprestasikan ajaran islam.
Berpaku pada ayat menelan mentah- mentah ayat yang kita baca itu sama
saja kita berpikir zaman jahiliah banyak ayat dalam alquran maupun hadis harus
ditafsirkan kembali menurut perkembangan zaman bukan perkembangan zaman yang
mengikuti penafsiran ayat tapi penafsiran ayat yang mengikuti perkembangan
zaman agar tidak terjadinya benturan peradaban yang bisa berakibat ajaran agama
akan terlihat ajaran bodoh didepan
ajaran sains yang terus berkembang itu semua disebabkan karena tidak
mengusahakan kesempurnaan akal dalam beragama tapi kesempurnaan ritual.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar