Sabtu, 12 September 2015

KEAJAIBAN  AKAL  MANUSIA ISLAM MENGUTAMAKAN AKAL BUKAN AYAT 

KEAJAIBAN  AKAL  MANUSIA

ISLAM MENGUTAMAKAN AKAL BUKAN AYAT 

Imam Abu Ja'far (Muhammad al-Baqir As) bersabda:
"Ketika Allah Swt menciptakan akal Dia mengajaknya berbicara, kemudian Dia berkata kepadanya: "menghadaplah, akalpun menghadap. Kemudian  Dia berkata lagi kepadanya: berpalinglah, akalpun berpaling. Setelah itu Dia berkata: Demi kemuliaan- Ku dan keagungan-Ku, Aku tidak menciptakan satu makhluk pun yang paling Aku cintai selainmu dan Aku tidak akan menyempurnakanmu kecuali pada orang yang Aku cintai. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Aku hanya memerintahkanmu dan hanya mencegahmu, dan hanya kepadamu Aku menyiksa dan hanya kepadamu Aku memberi ganjaran".

Berikut ini perhatikanlah baik-baik penjelasan singkat dan  sederhana mengenai hadis di atas. Penjelasan sederhana ini disesuaikan dengan kemampuan nalar awam dan kebanyakan manusia yang belum pernah mempelajari filsafat dan ilmu-ilmu akliyah lainnya.

Makhluk Allah Swt ada dua macam, ada yang bersifat materi seperti badan manusia, hewan, tumbuhan, dll, dan ada yang bersifat nonmateri seperti ruh, malaikat, setan, dll. Akal termasuk ciptaan Allah Swt yang bersifat nonmateri.
Akal adalah makhluk Allah Swt yang betul-betul mantaati segala perintah-Nya dan menjauhkan seluruh larangan-Nya. Hal itu sebagaimana telah diuji oleh Allah Swt ketika Dia menyuruhnya untuk taat hanya kepada-Nya dan berpaling dari selain-Nya. Karena itu dia makhluk yang paling dicintai oleh Allah Swt sehingga menjadi imam dan pemimpin bagi makhluk-makhluk yang lainnya.  Tentu saja ungkapan “mengahdap” dan “berpaling” bukan ungkapan yang haqiqi, tetapi sebagai kinayah. Jika Anda ingin memahaminya lebih dalam lagi, silahkan telaah kitab yang ditulis oleh Imam Khomeini Ra, judulnya “Junudul Aqli wa Junudul Jahli”.

Seseorang akan dicintai oleh Allah Swt ketika ia betul-betul menggunakan akalnya. Dan ia tidak akan menjadi manusia sempurna kecuali dengan menggunakan akalnya secara maksimal. Seseorang senantiasa akan berbuat dan berlaku baik selama ia menggunakan akalnya. Dan akan menjadi jahat dan zalim ketika tidak lagi menggunakan akalnya dan mengikuti hawa nafsunya.

Sejauh mana baik dan buruk atau jahatnya seseorang itu, tergantung sejauh mana ia menggunakan akalnya dan mengikuti hawa nafsunya. Akal itu akan semakin tinggi dan mulia jika dibarengi dengan ilmu pengetahuan. Semakin tinggi akal seseorang, maka ia semakin mulia dan dicintai oleh Allah Swt. Dan ia akan menjadi jahat, buruk dan terpuruk ke neraka jahannam ketika terus mengikuti hawa nafsunya.

Ulama hikmah memiliki beberapa pandangan dalam mengartikan akal di dalam riwayat yang mulia ini. Akal disini maksudnya adalah an-Nafs an-Nathiqah yang bersifat nonmateri dalam zatnya tetapi dalam perbuatannya bergantung kepada fisik dan materi. Dia (akal) dinamakan sebagai an-Nafs dilihat dari sisi kebergantungannya kepada badan, dan dinamakan akal dilihat dari sisi tajarrud dan kenonmateriannya dan hubungannya dengan alam al-Quds. Yang jelas bahwa akal adalah makhluk Allah Swt yang sangat mulia dan bersifat nonmateri.
Imam Musa bin Ja'far pernah bersabda: "Barangsiapa yang ingin kaya tanpa harta, ingin tenang hatinya dari sifat hasad dan ingin selamat dalam agamanya, maka hendaknya ia memohon secara tulus kepada Allah Swt agar Dia menyempurnakan akalnya"[1].

Makna lain dari akal di dalam hadis ini adalah: Akal Nabawi dan Hakikat Muhammadiyyah yakni ruh yang agung. Setelah Allah Swt menciptakannya Dia berkata kepadanya: menghadaplah! Maksudnya adalah turunlah ke muka bumi sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta dan sebagai pembimbing seluruh umat manusia. Maka Akal Nabawi itupun segera menghadap dan mentaati perintah Maulanya Allah Swt. Allah Swt juga berkata kepadanya: Berpalinglah! Yakni berpalinglah dari genmerlap dunia dan kemaksiatan dan hadapkanlah wajahmu dan perhatianmu hanya kepada Allah Swt. Maka Akal Nabawi itu pun berpaling dari tipu daya dan bujuk rayu dunia. Karena itu kemudia Allah Swt memuliakan, menghormati dan mencintainya sebagaimana pernyataan-Nya: "Sesungguhnya engkau adalah makhluk-Ku yang paling Aku cintai". Dan "setiap orang akan beruntung, selamat dan bahagia serta akan mencapai kesempurnaan insaniahnya ketika betul-betul mengikuti dan mentaatimu". Dan "dengan melaluimu Aku perintahkan seluruh umat manusia untuk mentaati-Ku dan melaluimu juga aku cegah mereka untuk  menjauhkan seluruh larangan-Ku. Dan "Aku akan menyiksa setiap orang yang menentang-Ku dan menentangmu dan Aku akan memberikan pahala dan surga kepada setiap orang yang mentaati-Ku dan mengikutimu. Karena engkau adalah sebab terciptanya seluruh makhluk-Ku. Jika sekiranya tidak karenamu, niscaya Aku tidak akan menciptakan seluruh alam raya ini.
Ala kulli hal, hadis mulia ini mengandung arti, makna dan maksud yang sangat dalam dan luas sehingga untuk memahaminya lebih dalam lagi, perlu penjelasan ulama hikmah yang hatinya diterangi oleh Allah Swt dengan amal ibadah, perbuatan dan tingkah lakunya yang saleh. Bukan ulama hikmah atau filsuf yang pandai mendemonstrasikan berbagai argumen filsafatnya hanya dalam lisannya belaka, sementara akhlaknya di mata masyarakat tidak dipandang karimah dan terpuji. Semoga Allah Swt menjauhkan kita dari akhlak yang buruk dan tidak terpuji.[]  

         Disinilah menurut saya diperlukan konsistensi apa yang kita pikirkan dengan apa yang kita perbuat, hendaknya kita bisa memurnikan akal kita sehingga menjadi benar-benar jernih tidak tersekat pada  batasan apapun, mau menerima hal-hal baru, dan beragumentasi berdasarkan keilmuwan bukan berdasarkan emosi. Berangkat dari riwayat imam musa bin jafar tentang menyempurkan akal selayaknya kita mesti terus dan menerus belajar dan belajar dari berbagai sudut pandang tanpa melihat kecacatan berbagai macam perbedaan.
            Melihat kondisi umat islam sekarang ini bisa dibilang sangat sedikit umat islam yang menyempurnakan akalnya yang ada adalah berusaha menyempurkan ibadahnya yang hanya bersifat ritual dan kefanatikannya pada suatu kamu serta sibuk berpikir bagaimana membentuk zaman ideal dengan sistem yang tidak ada kelemahan tanpa pernah berpikir bagaimana membentuk  akal yang ideal untuk kemudian memberi kontribusi pada peradaban.
                  Dengan pencapaian kesempurnaan akal bisa mengakibat umat islam lebih sadar diri dan tidak mudah tersulut emosi ironis melihat bahwa banyak orang islam yang pintar namun hanya sekedar pintar tapi tidak mampu menyeimbangkan yang kalau menurut seorang psikolog  asal jerman sigmund freud id,ego, dan superego. Sehingga rajinnya ibadah berbanding terbalik dengan sikapnya pada lingkungan dia selalu menjadi individu yang aragon, terjebak fanatisme sempit, ataupun mudah di hasut bahkan munafik.
              Kalau dikaji dari berbagai macam aliran psikologi pentingan kesempurnaan akal lebih utama dari pada penting menjalankan ritual atuapun hafal hadis karena yang bersifat ritual itu tidak 100 % merubah kita menjadi manusia bermoral kalau sekadar dilakukan karena waktu ibadahnya sudah tiba atau sekadar rutinitas tanpa pemahaman.
              Bagaimana bisa sesuatu yang kita lakukan hanya sebagai rutintias tanpa pemahaman dan pemaknaan bisa menjadikan diri kita individu yang lebih baik karena kita harus melihat kenyataan bahwa banyak orang islam yang menjalani ritual dan hafal fasih ilmu agamaa tapi mereka tidak mampu mengatasi depresi di dalam diri mereka,tidak mampu mengontrol emosi mereka,nafsu mereka, terjebak dalam fanatisme sempit, berburuk sangka, ataupun hal lainnya .
                Disinilah kita berbicara masalah kurang adanya kesadaran dalam diri karena yang ditekankan selama ini hanya pengetahuan agama yang ditekankan hafal berbagai ayat maupun hadis tapi tidak belajar bagaimana caranya berpikir berdasarkan agama,merenungkan nilai-nilai agama, dan menerapkan ajaran agama makanya pemahaman agamanya hanya sebatas dokrinisasi bukan berdasarkan keilmuwan.
                  Kurangnya kontrol diri pada banyak umat islam tidak bisa diatasi hanya dengan sholat ,ngaji, hadir diceramah-ceramah, ikut liqo, nangis-nangis diacara pengajian,berzikir,bersholat,atau apalah hal lainnya.memang banyak yang berkata sholat mencegah dari perbuatan mungkar namun kalau dipahami lagi disitukan dikatakan hanya mencegah, arti kata mencegah adalah mengantisipasi yang akan terjadi, mencegah itu kan hasilnya bisa 50-50 bisa berhasil tercegah bisa juga tidak kenyataan banyak yang rajin sholat tapi setelah itu dia berbuat kejahatan.
                Harusnya kita jangan hanya bicara masalah mencegah tapi bagaimana mengatasi melihat kenyataan kini bukan belajar mencegah tapi belajar mengatasi. Lalu bagaimana mengatasi kerusakan moral, kurangnya kontrol diri, sikap munafik, apalagi fanatisme sempit atau hal- hal lainnya yang merusak moral ada beberapa solusi yang perlu dipertimbangan ubah mindset dari hanya belajar pengetahuan agama menjadi belajar bagaimana caranya berpikir berdasarkan ajaran agama yang berbasiskan pada kerohanian bukan pada pengetahuan teologi semata, merenungkan nilai-nilai rohani keagamaan, memasyarakatkan keberanian moral berani untuk mengkritik dan berbeda pendapat dan tidak mendukung kesalahan-kesalahan umat agama sendiri, menerapkan nilai-nilai rohani  dalam kehidupan. Haruslah berubah mindset daripada mengusahakan kesempurnaan pengusaaan ilmu agama maupun ritual haruslah mengusahakan kesempurnaan akal, untuk memperoleh kesempurnaan akal maka harus dibutuhkan suatu pola pikir dalam pembelajaran yang luas tidak tersekat pada apapun.
          Ini sekadar perenungan saya bagi saya islam tidak mengutamakan ayat apalah artinya ayat itu hanya teori saja tanpa belajar agama pun kita tahu mencuri itu haram tidak perlu untuk menafsirkan yang rumit yang perlu kita pelajari sekarang adalah bagaimana caranya berpikir,merenungkan,dan menerapkan dan berani untuk mengreinterprestasikan  ajaran islam.
          Berpaku pada ayat menelan mentah- mentah ayat yang kita baca itu sama saja kita berpikir zaman jahiliah banyak ayat dalam alquran maupun hadis harus ditafsirkan kembali menurut perkembangan zaman bukan perkembangan zaman yang mengikuti penafsiran ayat tapi penafsiran ayat yang mengikuti perkembangan zaman agar tidak terjadinya benturan peradaban yang bisa berakibat ajaran agama akan terlihat ajaran bodoh  didepan ajaran sains yang terus berkembang itu semua disebabkan karena tidak mengusahakan kesempurnaan akal dalam beragama tapi kesempurnaan ritual.






[1] . Hadis ini selengkapnya akan dibahas pada bagian lainnya dalam perspektif psikologi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar