Kamis, 24 Desember 2015

BROOO AGAMA TUH ORANG SAMA AGAMA KITA SAMA LOOOO


   Artikel ini gue tulis buat mereka yang masih ijo alias muda yang udah sok jadi alim ulama dimana sudah berani berkata kafir sana sama kafir sini karena akhir- akhir ini gua gerah ngeliat soal polemik boleh gak ngucapin natal itu disebarluaskan oleh mereka yang muda yang masih ijo saat gua coba lurusin gua di cap SYIah , gua sendiri yang nulis juga masih ijo  alias muda tapi yang membedakan gua sama yang ijo- ijo lain itu pada pemahaman sebenarnya bukan seberapa banyak omongan orang yang lo denger buat lo bisa paham sesuatu tapi seberapa banyak lo analisa apa yang lo tangkep apa yang lo baca dengan pikiran lo yang masih muda ya kalau cuma sekedar lo nerima dan nelen mentah- mentah kasihan otak muda lo yang gak ada bedanya sama Flash disk,So di artikel ini gua bakal jabarin hal yang bisa buat iman loo guncang jangan cuma dompet terus yang sering lo buat guncang apalagi Kampus atau kelas terus yang lo buat guncang, sekali- kali iman juga dibuat guncang mungkin pikiran gua nyeleneh tapi ya justru gua adalah salah satu orang yang menghayati usia muda dimana bagi gua usia muda harus dijalankan dengan kebebasan berpikir mungkin karena inspirator gua orang- orang kayak SOE HOK GIE ATAU AHMAD WAHIB SAMA NURCHOLISH MADJID ,kalau bisa dibilang artikel ini dibuat karena kemuakaan gua kok yang muda bukannya tebar perdamaian malah tebar propaganda. 
      
    Terlepas dari gimana kisah cinta lo ,Kiriman uang kosan lo yang ngadat, sampe berbagai masalah lo lainnya ,Bukan hanya lo sih gua juga banyak masalah tapi terlepas dari itu semua Tahun ini  menurut gua sangat istimewa bukan karena gua udah berhasil gaet gadis kampus apalagi karena ACC skripsi tapi ini soal Pluralisme dan Toleransi antar pemeluk agama yang kalau kita kaji ini akhir tahun spesiel banget dari sudut pandang Teologi,Filsafat,apalagi sosial CEile bahasa gue ketinggian yak ditengah kedukaan gua soal asmara.

       Perlu lo ketahuin diakhir tahun ini 3 perayaan agama  diadakan langsung pada bulan desember selain maulid pada tanggal 24 desember dan hari setelahnya natal tanggal 25 desember,namun pada awal bulan umat yahudi merayakan hari Hanuknah yaitu peringatan pengkudusan kembali Bait Suci pada tanggal 6 sampai 14 desember,Ngomong- ngomong soal yahudi iya yahudi yang itu yang tiap kali lo demonstasiin ditengah kota  sebagai bangsa terkutuk yah terkutuk yahudi dengan segala teknologi ciptaan yang sekarang lo pake buat kritik sana-sini. ini  menurut gua menunjukkan suatu tanda dari Tuhan yang ingin menyatukan tiga saudara dalam tiga keimanan  tapi satu tujuan yaitu penyembahan pada Allah yang suci dan mulia untuk menebar rahmat bagi semesta alam.
   
       Sebuah refleksi akhir tahun buat kita- kita yang masih muda khususnya dan bagi generasi lebih tua umumnya  untuk saling menghargai perbedaan dan melepaskan egoisme pribadi karena selama ini kita selalu saja bertuhan dengan cara yang salah,menganggap agama lain lebih rendah atau melecehkan serta mendiskriminasi pemeluk agama tersebut ini jelas bertentangan dengan hukum 3 agama yang dasarnya adalah menegakkan keadilan dan  melawan kezaliman.

          DARIPADA KITA MEMBAHAS PERBEDAAN ADA BAIKNYA KITA MEMBAHAS PERSAMAAN TIDAK PERLULAH ATAS DASAR KEIMANAN YANG SEBENARNYA ADALAH VERSI KITA ATAU VERSI KELOMPOK KITA YANG PEMAHAMAN BELUM TENTU BENAR KEMUDIAN KITA DOKRINKAN KEPADA ORANG LAIN YANG BUKAN BAGIAN DARI KELOMPOK KITA AGAR EMOSINYA TERSULUT DAN MENJADI FANATIK BUTA ATAS DASAR MENEGAKKAN AKIDAH PESAN AKHIR TAHUN SAYA SATU BOLEH SAJA ANDA MENEGAKKAN APA YANG MENURUT ANDA BISA MENGANTARKAN ANDA KESURGA TAPI JANGAN MEMBUAT DUNIA INI SEPERTI NERAKA,ANDA MENGEJAR SURGA ANDA TAPI MENJADIKAN DUNIA INI SEPERTI NERAKA MAKA AKHIRNYA PUN ADA AKAN BERAKHIR DINERAKA.KARENA KALAU SUDAH BEDA YANG DIBAHAS KAMU DARI ITU DAN SAYA DARI ITU NANTI KITA BERUJUNG CLASH. 
       
     
      Dalam artikel ini gua akan membahas kesamaan antara ajaran kristen dan islam dan ajaran yahudi dan islam agar umat islam khususnya paham akan dua saudara seimannya yang meski berbeda dalam jalan tapi sesungguhnya muara satu yaitu pada hadirat Tuhan yang maha mulia yang sama- sama di imani oleh mereka yang awalnya membawa tiga agama besar dunia ini.

Kristen dan Muslim yang  banyak  miripnya  daripada berbedanya . Silahkan baca apa yang saya telah temukan. syukur- syukur anda terbuka pikiran tapi kalau pun tidak terbuka cap saya sebagai  pki,syiah, atau pun yahudi tidak menjadi soal bagi saya  . ~~ Adi

1. Yesus mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan dan hanya Tuhan harus disembah seperti yang diajarkan dalam Ul 6: 4, Mark 12:29. Muslim juga percaya ini seperti yang diajarkan dalam Al Qur'an ayat 4: 171.

2. Yesus  selalu menyambut dan disambut dengan  kata   (Damai sejahtera bagi kamu) dalam Yohanes 20:21 yang tidak ada bedanya dengan Assalamualaikum wr wb  dan  Muslim juga saling menyapa dengan cara ini hanya bahasanya saja yang beda.

3.Yesus selalu berkata "jika tuhan menghendaki " (insya Allah), Muslim mengatakan ini juga sebelum melakukan sesuatu seperti yang diajarkan dalam Quran ayat 18: 23-24.

4.Yesus membasuh wajahnya, tangan, dan kaki sebelum berdoa. Umat Islam melakukan hal yang sama bahkan sampai kini kalangan kristen orthodox masih melakukan dan  masih beribadan seperti layaknya muslim sholat

5.Yesus dan nabi-nabi lain dari Alkitab berdoa dengan kepala mereka menghadap  tanah (lihat Matius 26:39). Muslim lakukan untuk seperti yang diajarkan dalam Quran ayat 3:43.

6. Yesus memiliki jenggot dan mengenakan jubah . Hal ini Sunnah bagi pria Muslim untuk melakukan hal yang sama

7.Yesus mengikuti hukum dan percaya pada semua nabi, (lihat Matius 5:17). Muslim lakukan juga seperti yang diajarkan dalam Quran ayat 3:84, dan 2: 285.

8.Ibu Yesus Maryam berpakaian sederhana dengan sepenuhnya menutupi tubuhnya dan mengenakan jilbab (hijab) seperti yang ditemukan dalam 1 Timotius 2: 9, Kejadian 24: 64-65, dan Korintus 11: 6. Wanita Muslim berpakaian sederhana yang sama sebagaimana yang diajarkan dalam al Quran ayat 33:59.

9.Yesus dan nabi-nabi lain dari Alkitab berpuasa hingga 40 hari (lihat Keluaran 34:28, Daniel 10:. 2-6  dan 1 Kings 19: 8, dan Matius 4:. 1-Muslim melakukannya juga selama bulan Ramadhan Muslim dimana  berpuasa adalah  wajib 30 hari (lihat Quran 2: 183

10. Yesus mengajarkan untuk  selalu mengatakan "damai sejahtera bagi rumah ini" ketika memasukinya  (lihat Lukas 10: 5), dan juga menyapa orang-orang di rumah dengan "damai sejahtera bagi kamu". Muslim melakukan apa yang Yesus lakukan dan ajarkan. Ketika kita memasuki rumah kita dan rumah lain kita mengatakan "Bismillah" dan juga setuju dengan "assalamu alaikum" (damai  bagi Anda) seperti yang diajarkan dalam Quran ayat 24:61.

11. Yesus disunat. Sunat adalah 1 dari 5 fithrah dalam Islam, sehingga orang-orang Muslim diwajibkan untuk disunat. Menurut Alkitab dalam Lukas 2:21, Yesus berumur delapan hari ketika ia disunat. Dalam Taurat, Allah / Tuhan menyatakan kepada Nabi Ibrahim bahwa itu adalah "perjanjian Abadi" (lihat Kejadian 17:13). Dalam Quran ayat 16: 123 Muslim diwajibkan untuk mengikuti agama Ibrahim. Nabi Muhammad berkata, "Nabi Ibrahim disunat dirinya sendiri ketika ia berusia delapan puluh tahun."

12. Yesus berbicara bahasa Aram dan dipanggil Allah "Elah", yang diucapkan sama dengan "Allah". Aram adalah bahasa Alkitab kuno. Ini adalah salah satu bahasa Semit yang juga termasuk bahasa Ibrani, Arab, Ethiopia dan bahasa Asyur dan Babilonia kuno dari Akkadia.
Bahasa Aram "Elah" dan Arab "Allah" adalah sama.
Bahasa Aram "Elah" berasal dari bahasa Arab "Allah", dan itu berarti "ALLAH". "Allah" dalam bahasa Arab juga berarti "ALLAH", dari Maha ALLAH SWT. Anda dapat dengan mudah melihat kesamaan dalam pengucapan mereka jadi ini menyimpulkan bahwa Allah Yesus juga Allah Muslim, dari seluruh umat manusia, dan semua yang ada.

 SEKARANG GUA JABARIN SOAL KESAMAAN YAHUDI DAN ISLAM 

SIMPLENYA GINI LO TAHU SUNAT ITU BUDAYA YAHUDI GAK PERCAYA BUKA PERJANJIAN LAMA 
LO TAHU SHALOM ALAICHEM ITU JUGA ARTI LAIN DARI ASSALAMUALAIKUM 
LO TAHU SOAL ALPHABET IBRANI KALAU LO BELAJAR PENGUCAPAN SAMA DENGAN ARAB 

dan sekilas gua jabarin pointNYA

1. Dalam Yudaisme dan Islam Adam adalah Nabi pertama dan ia mengikuti agama Islam dipanggil Islam dan bahwa orang Yahudi menyebut Sheva mitzvot B'nei Noach tapi gua gak tahu kalau pemahaman lo nabi pertama bukan adam tapi susanto atau joko 

2. Dalam Quran dan Taurat orang Yahudi yang digambarkan sebagai yang dipilih oleh Allah

3.di islam ada namanya sedekah dan diyahudi ada namanya tzedekah

4. semua nabi israel itu kita akui dan kita imani di keimanan islam 

5. Hukum syariahnya islam sama hukum halakhahnya yahudi itu sama aja isinya kalau lo analisis lagi

6. yahudi itu monoteis kita juga monoteis

dan masih banyak lagi persamaan kalau gua jabarin semua takutnya nanti murtad eh bukan murtad deh tapi auto murtad. tapi setidaknya artikel gua yang singkat ini buka pikiran looo pada jadi jangan ababil dalam beragama diri lo boleh labil tapi please jangan bawa agama kepada kelabilan loo kasih mak dan bapak loo yang maunya lo jadi orang bener. 

    SATU PETUAH DARI GUA KALAU LO MAU BANYAK TAHU SOAL AGAMA LO BACA SEMUA KITAB ALLAH.


SALAM ANAK MUDA





Jumat, 18 Desember 2015

PENEROR ITU JUGA SAUDARA KITA




   Pada malam jam 21.00 sampai pada jam 02.00 waktu paris tepatnya pada tanggal 13 dan 14 nopember 2015,menjadi malam jahanam bagi warga kota mode bagaimana tidak malam yang penuh keceriaan saat semua orang paris berkumpul dipusat-pusat hiburan dikejutkan dengan serangan brutal dari mulai bom bunuh diri,penyanderaan,sampai yang paling tragis adalah pembantaian di sebuah lokasi konser bernama Bataclan.

    Esok harinya simpati dunia mengalir untuk tragedi paris yang datang dari berbagai golongan suku,ras,dan agama yang bersatu padu memberi solidaritas pada korban tragedi paris dan tidak butuh waktu lama identitas pelaku teror pun terungkap meski belum jelas siapa pelakunya pada saat itu berdasarkan pengamatan penulis menyaksikan EURO news dan 24english France tv serta berbagai chanel pemberitaan baik asing maupun lokal  beberapa waktu setelah serangan penduduk paris yang diwawancarai  meyakini kelompok yang menyerang itu adalah kelompok yang sama yang menyerang Redaksi majalah Charlie Hebdo jangankan penduduk prancis,media pun sudah pasang headline memastikan bahwa kelompok yang sama kembali  menyerang jauh sebelum identifikasi resmi dari kepolisian muncul  dan sesuai dengan dugaan tidak berselang lama tim Anti teror prancis  mengungkapkan pelaku penyerangan Yang bernama Abdelhamid Abaaoud yang notebene berasal dari etnis yang sama dan beragama yang sama dengan pelaku penyerangan Charlie Hebdo,kebetulan juga agama pelaku sama dengan agama penulis hanya ras dan sukunya saja yang berbeda. 

        Selang beberapa waktu setelah tragedi,reaksi keras dari tokoh agama yang kebetulan agamanya sama dengan si pelaku mengecam dan mengutuk tindakan terorisme atas nama agama dan reaksi juga datang dari para pemeluk agama yang sama dengan si pelaku. berbagai reaksi spontan pun berdatang dari dunia agama yang bersangkutan dari mulai membuat Banner " we are not teroris"  aksi di sosial media dengan hastag #NOT IN MY NAME  sampai kepada eksperiment peluk dimana ada seorang penganut agama yang sama dengan pelaku dan juga penulis yang berdiri ditengah keramaian kota paris dengan mata tertutup dan didekatnya ada tulisan "HUG ME IAM NOT TERORIST" dan sontak banyak yang bersimpati dan memeluk orang itu dan eksperimen yang sama pun ada diberbagai belahan dunia untuk menarik simpati jika KITA BUKANLAH BAGIAN DARI MEREKA selain itu juga ada berbagai macam artikel yang ditulis dari akademisi ataupun masyarakat awam dari agama yang sama dengan yang dianut penulis dan pelaku tentang bagaimana agama ini sesungguhnya mengajari perdamaian. 

         Memang benar bahwa kita yang memeluk agama ini meskipun agamanya sama bukanlah bagian dari mereka yang barbar tapi apakah cukup hanya menjelaskan KITA BUKANLAH BAGIAN DARI MEREKA di bibir saja atau hanya sekedar menulis saja membeberkan hal yang baik-baik saja  kalau kita bilang agama yang kita anut tidak mengajarkan apa yang pelaku perbuat mari coba cek di ayat pada agama kita banyak sekali ayat yang merupakan dasar bagi tindakan pelaku.

         COntohnya  Surat Albaqoroh, ayat 191,Surat Albaqoroh, ayat 193,Surat Albaqoroh, ayat 216, Surat An nisa’, ayat 84,Surat Al maidah, ayat 33,Surat Al anfal, ayat 12, Surat Al anfal, ayat 17, dan masih banyak lagi ayat yang identik mengajarkan kekerasan dan bisa ditafsirkan untuk melakukan suatu tindakan teror bukan bermaksud untuk merendakan AYAT SUCI ALLAH tapi penulis perhatikan tidak banyak yang tahu akan ayat - ayat yang dipakai teroris untuk melancarkan aksinya mereka hanya disuguhi ayat-ayat yang enak dibaca sesuai dengan kondisi psikologis mereka saja toh jika dikaji lagi perjuangan mereka untuk berjihad pun pastilah ada landasan yang kuat.

       Selama ini penulis pun suka membaca majalan dabiq yang merupakan majalah  dari isis dan beberapa majalah radikal lainnya salah satu kutipan dimajalah itu mereka menyatakan bahwa agama yang saya anut ini adalah agama pedang karena dasarnya adalah melawan kebatilan. bahkan dimajalah-majalah itu tercantum banyak hadis dan ayat yang membenarkan apa yang mereka lakukan toh kalau kia berani jujur dan menyelidiki lebih dalam kita akan shock bahwa mereka sadar secara keimanan dengan apa yang mereka pelajari dan apa yang mereka praktikan jangankan lewat majalan kita buka situs yang berhubungan dengan agama kita pun banyak yang membenarkan tindakan mereka ya paling ada beberapa situs yang menyatakan kelompok isis bukan islam tapi disatu sisi mereka menyanjung kelompok lain yang beda-beda tipis dengan isis sebagai pejuang ya sama saja. 

     selama ini paling banter kita hanya  bilang agama kita sudah dibajak kalau dibajak apa iya hmm dibajak dalam segi apa? kenapa hanya agama ini yang bisa terjadi pembajakan kenapa tidak diagama lain toh diagama lain tidak terjadi pembajakan kalau kita menganggap mereka bukan bagian dari agama kita toh mereka sepanjang hidupnya menjalankan perintah agama yang jauh lebih rajin dari kita,katakanlah sejak usia muda mereka sudah paham ilmu agama yang tinggi diatas kita. 

      Jadi kenyataannya toh mereka bagian dari kita dan merupakan saudara seiman kita,dan mereka berjuang untuk tegaknya agama kita meskipun caranya kita nilai salah tapi toh tidak ada pembuktian jika mereka bukan bagian dari kita toh mereka berjuang dengan menjunjung dua buku suci yang juga kita imani. selain itu juga terkadang kita ini penuh kemunafikan disatu sisi kita mengecam tindakan mereka tapi tindakan kita pun sebenarnya sama dengan tindakan mereka hanya saja masih dibawah level tindakan mereka toh tidak menutup kemungkinan kita akan melalukan hal sama saat mendengar nama agama kita di caci maki apalagi nama Nabi kita dihujat. 
      
        Bukannya wajah seperti abdelhamid abaoud,abu bakar al bagdadi leader of isis,osama bin ladin,Umar farouk,jihadi john, dan nama-nama beken lainnya yang merupakan  pejuang modern agama kita yang beken karena aksinya yang kita anggap keluar dari batasan ,justru ada  manifestasi dalam negara kita, ya kita bisa melihat bagaimana kerasnya umat agama kita saat ada gesekan sedikitit. pastilah  bukan negosiasi yang diutamakan tapi bogem mentah yang melayang ya setidaknya itu selevel dengan apa yang pejuang-pejuang modern  yang saya sebutkan tadi  lakukan,hanya saja level tindakan kita beda tapi masih dalam satu presentasi level yang dasarnya sama  dan jelas berlandaskan pada dua buku suci yang kita yakini kebenarannnya 100 %.

          Jadi tidak tidak usahlah malu mengakui kalau kita satu keimanan dengan mereka secara tauhid ya  kita sama tapi mungkin sikap dan tindakan saja kita berbeda tapi kalau dilihat lebih dalam lagi pun sikap dan tindakan kita pun mungkin akan mengekor mereka saat kita berada pada posisi terancam keimanan ataupun mendapatkan dokrin yang bisa menjeremuskan ,NAH UNTUK SOal dokrin mungkin ada argumen yang berkata " ah mereka jadi teroris kan karena salah dokrin" bisa kita balikkan tannya " memang karena dokrin tapi bukannya dokrinnya juga bersumber pada dua buku suci yang sama-sama kita yakini,kenapa bisa 2 buku suci itu dijadikan landasan dokrin padahal buku suci diagama lain tidak bisa mendokrin orang menjadi seorang bomber tapi kenapa sukses dengan 2 buku suci kita" pastilah jika kita memberi argumen balik seperti itu langsung dicap bukan bagian dari agama dan main cap itu ya selevel dengan tindakan mereka hanya saja beda tingkatan. 

           Kalau kita berargumen " memang ada ayat- ayat yang mengajarkan itu tapi kan itu ada konteksnya" saya ingin balik bertanya seberapa berani kita mencoba merekonstruksi ajaran dalam agama kita sendiri sehingga ayat yang sudah tidak relevan lagi tersingkirkan tanpa memicu suatu polemik toh kenyataanny ayat-ayat itu masih populer digunakan sebagai penguat militansi masa agar menjadi siap mati demi agama. Nah membahas soal rekonstruksi ajaran pun pastilah tidak ada keberanian dalam otak kita toh selama ini memang kita diajarkan berdasarkan dokrin bukan nalar kritis karena memang tidak salah juga ketika ada argumen soal terorisme itu salah dokrin atau bahaya ada dokrin terorisme toh dokrin adalah  salah satu media pengajaran keimanan dan sumber dokrinpun dari 2 buku suci jadi  secara akar kita sama antara kita yang non teroris dengan mereka yang teroris. 

          Kita bisa saja menjabarkan berbagai macam teori konspirasi dan pemutar balikkan fakta bahwa perbuatan itu ITS NOT MY NAME ( TIDAK BERDASARKAN NAMA SAYA ) tapi satu sisi kita mengkagumi kelompok lain yang bertindak serupa dengan kelompok yang kita kecam misalnya saja ada orang yang benci pada isis tapi dia mengkagumi perjuanagan bangsa palestina misalnya hamas yang mengirim roket ke israel dan melakuukan penikaman di Jerussalem. ya kalau secara logika kelompok pertama dan kedua tidak ada bedanya sama-sama saja basisnya kekerasan jadi toh kita hanya membenci satu merek tapi suka merek lain karena kesukaan kita pada dasarnya hanya pada produk yang sama dalam hal ini keagamaan kita didasarkan pada hagemoni  yang dasarnya diajarkan lewat dokrinisasi yang berdasarkan kelompok kita vs kelompok mereka.  Kalau nanti ada peristiwa yang melibatkan saudara seiman kita justru kita akan berkilah itu bukan bagian dari agama saya itu bukan dia itu sudah menyimpang toh faktanya dia bersandar pada 2 buku suci dan pemahaman agamanya pun pastilah jauh dari kita meskipun caranya salah toh kalau kita buktikan lebih dalam tidak ada bukti jika mereka bukan bagian dari kita hanya saja kita malu mengakuinya karena ketidakberanian kita untuk mengakui sebuah kesalahan.
           Satu lagi  kalau kita bilang agama yang kita anut mengajarkan toleransi toh dalam perjalanannya pun toleransi sendiri kontroversial karena banyak batasan dalam bertoleransi tidak boleh ini tidak boleh toh kita bertoleransi pada sesama tapi kenyataannya didalam hati kita meyakini apa yang dianut oleh teman kita itu adalah sesat , bisa dikatakan toleransi hanya dibibir. kalau kita katakan perbuatan mereka melawan negara karena agama kita mengajarkan kita mencintai negara itu artinya kita kurang memahami lebih dalam agama kita,karena kalau kita pahami lebih dalam bukan satu kesimpulan yang kita dapat tapi bisa lebih dari dua kesimpulan yang kita dapat,dalam ajaran  agama kita cinta negara itu memang ada tapi kan cinta negara dalam konteks negara yang bersandarkan pada ajaran agama kita, jadi kalau tidak ya itu sama saja thogut atau tunduk pada kuasa pemerintah kafir. 
                    
                       ALangkah indahnya daripada kita bicara berkilah dan menyerang berbagai macam opini yang menyebut itu adalah ajaran islam dan bilang mereka  bukan bagian dari agama kita lebih baik  kalau kita bicara dan menulis seperti ini " kepada masyarakat paris dan korban teror akibat  perbuatan saudara-saudara  seimanku sudi kiranya kalian membuka pintu maaf kepada saudara-saudara kami yang meskipun caranya salah karena dia  hanya berjuang bersandarkan pada apa yang tertulis pada 2 buku suci kami secara kontekstual,jika kalian ada ke inginan untuk mengkritik dan mengkoreksi bagaimana bagusnya ajaran kami depannya dalam konteks dunia modern ini kami menerimannya, karena satu-satunya jalan bagi kami untuk membersihkan agama kami dari unsur-unsur jelek yang sudah ditimbulkan pelaku dan kelompoknya adalah lewat keterbukaan diri,kami siap menerima hujatan,diskriminasi, atau hal jelek apapun karena bagi kami itu lumrah dan wajar dalam proses untuk menjelaskan hal yang benar dan hal yang salah ,dan kamipun bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan sanak saudara kalian yang tercinta, karena kami pun punya hati merasakan. 

tulisan ini saya buat hanya sebagai refleksi dari emosi terdalam saya
sebagai penganut agama yang baik saya tidak malu mengakui bahwa
isis,alqaeda,hamas,jabhat alnusra,mujahidin moro,atau apapun grupnya adalah saudara seiman saya
yang ingin saya sampaikan pada mereka

salam perdamaian
hargai perbedaan 
saya cinta kalian sebagai satu ukhuwah 
untuk kalian yang bilang mereka bukan saudara seimana kita 
coba bicara didepan mereka 
#RISIKO DITANGGUNG SENDIRI 
tapi setidaknya cobalah bangun pendapat berdasarkan nalar kritis dan refleksi diri 
     

Rabu, 16 Desember 2015

BELAJAR ISLAM DARI TOKOH PKI

    

      PKI mendengar nama ini pastilah banyak orang indonesia akan mengerutkan dahi membayangkan kekejian,pengkhianatan, dan hal negatif lainnya . PKI sebuah partai yang sepak terjangnya sangat kontroversial diindonesia, partai berlambang palu arit yang berdiri sejak tahun mei 1914 sampai kehancuran pada tahun 1965 , berbagai kontroversial dari yang menimbulkan pro dan kontra bertebaran dimasyarakat, mempertanyakan dan mencoba mengetahui siapa sebenarnya orang-orang dibalik Partai itu selalu menjadi hal yang dilarang karena doktrin yang sudah mendarah daging.
        
      Salah satu doktrin populer soal pki adalah pahamnya yang katanya anti tuhan awalnya saya percaya akan perkataan ini karena sejak sd sampai sma saya selalu di beberkan sejarah soal pki yang menyerang pondok pesantren namun seiring sejalan pergaulan saya dengan aktifis kiri dari kubu sosialis dari Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi dan Persatuan mahasiswa sosialis menjadikan pemahaman saya berubah, rekan saya berujar pada saya kalau pki itu anti tuhan terus sarikat islam yang menjadi awalnya pki dimana banyak ulama disitu yang tergabung jadi semuanya anti tuhan lalu dia menambahkan apa definisi anti tuhan, sebuah perenungan intelektual bagi saya apakah mereka yang sudah bertuhan sudah benar bertuhan atau ada sikap anti tuhan didalamnya.

         
         Dari situ saya mendapatkan pemahaman baru soal bagaimana sejarah sudah diputar balikkan sama seperti sejarah islam awal yang di ungkapkan Munim Shiri dalam bukunya kontroversi islam awal dimana dia menyatakan sejarah islam banyak ditutupi dan diputarbalikkan begitupun juga dengan sejarah soal pki.

          Dokrin soal anti agama yang melekat pada pki justru tidak benar sama sekali,pemahaman ini saya dapatkan ketika saya membaca litelatur tokoh-tokoh awal pki yang sangat islam sekali dan bukan hanya sebatas islam identitas tapi islam revolusioner sekaligus intelektualis. Tokoh-tokoh seperti  Tan Malaka islam intelektualis yang melalangbuana menulis berbagai macam pemikiran hebat untuk revolusi indonesia, Semaun sosok pengusaha muslim yang pasang badan  membela kepentingan pribumi dari kekejaman belanda, Haji Misbach tokoh pki yang membantu pribumu dalam bidang pendidikan dan sosial melawan hagemoni belanda, Datuk batuah dan Natar Zainudin  dua sosok haji dari sumatra barat yang mengkonsepkan ajaran islam untuk perbaikan sosial masyarakat pribumi melawan hagemoni belanda,Muso anak ulama besar yang pandai kitab kuning dan bahasa rusia serta dekat dengan pemimpin rusia stalin, dan masih banyak lagi.

     Salah satu tokoh islam dari kalangan pki yang mempengaruhi intelektualitas saya adalah haji misbach mungkin kalau dia hidup dizaman ini sudah pasti dia harus angkat kaki dari solo  karena dianggap murtad, yahudi,sesat, syiah, atau lain sebagainya. mungkin namanya tidak terlalu populer dikalangan rakyat indonesia sekarang karena sekarang orientasi masyarakat indonesia khususnya yang islam  bukan kepada tokoh islam berintelektual tapi tokoh islam yang garang, banyak masa, dan bisa jadi menarik perhatian meskipun ceramahnya kandungannya standar.  Haji misbach adalah seorang tokoh komunis awal yang lahir di solo pada tahun 1876 di alun-alun kauman tempat yang sama dimana pendiri muhammadiyah Ahmad Dahlan membangun organisasinya Muhammadiyah, bernama asli ahmad pada masa kecil dan berganti nama menjadi darmodiprono lalu kemudian setelah berhaji mengganti namanya menjadi haji muhammad misbah dan seiring keaktifkan pada golongan komunis beliau mendapat julukan haji merah.
           

         Haji Misbach bukan sosok haji yang lebay dan hobi pamer kesombongan akan kesolehan dalam sebuah pidatonya dikongres sarekat islam yang menjadi cikal bakal lahirnya PKI,beliau menyatakan “ saya bukan haji tapi Mohammad Misbach,seorang jawa , yang teah memenuhi kewajibannya sebagai muslim dengan melakukan perjalanan suci kemekkah dan madinah” . sebuah perkataan yang menggambarkan kepribadiannya tidak sombong dan lebih menekankan esensi daripada simbolisme gelar haji, seberapa banyak tokoh yang menyandang gelar haji bisa berpikiran yang sama seperti misbach tidak menjadikan hajinya sebagai perpanjangan dari kesombongan diri dan merendahkan orang lain. Selain soal haji yang menurutnya bukanlah sebuah gelar kebangsaan yang dimana orang harus tunduk dan menciumi tangannya kemana-mana,untuk soal pakaian pun beliau haji misbach berdasarkan apa kata temannya Marco Kartodikromo, seorang wartawan yang juga seorang aktivis kebangkitan nasional asal Hindia-Belanda pada saat itu, berkisah tentang Misbach:
       
 ".. Di Pemandangan Misbach tidak ada beda di antara seorang pencuri biasa dengan orang yang dikata berpangkat, begitu juga di antara rebana dan klenengan, di antara bok Haji yang bertutup muka dan orang bersorban cara Arab dan berkain kepala cara Jawa. Dan sebab itu dia lebih gemar memakai kain kepala dari pada memakai peci Turki atau bersorban seperti pakaian kebanyakan orang yang disebut "Haji".  Digambarkan sosok haji misbach tidak hobi bersorban apalagi berpeci mungkin jika dia hidup dizaman sekarang dia sudah otomatis murtad namum  disitu haji misbach ingin mengajarkan untuk tidak sombong dan untuk tidak ego karena  orang sebenarnya tidak lihat agamamu tapi akhlakmu biarlah agamamu itu urusanmu dengan tuhan tapi bagamana akhlakmu itu urusanmu dengan manusia,soal  ajaran untuk menjadi tidak sombong dari haji misbach ini sesuai dengan ayat alquran “dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung (Q.S Al-Isra’:  37).

           Haji Misbach juga coba mengajarkan antara kesesuaian keagamaan kita dengan perilaku kita percuma kita ngaku islam tapi tindakan kita tidak mencerminkan, dalam sebuah pendapatnya lagi haji misbach menyatakan bahwa Islam tak bisa berdiam diri saksikan eksploitasi. Melawan itu merupakan inti ajaran jihad fi sabilillah: “Sabil itu adalah atoeran Islam jang penting dan mudjarab. Menang dari perang sabil tentoe oentoeng, mati karena sabilpoen keoentoengan jang besar dalam achirat’ Bisa saja menganggap Misbach itu komunis, tapi melalui bahasa agama, Haji Misbach membuat Islam jadi agama seperti semula: menghadang penindasan dan melawan kesewenang-wenangan.
       
          Pemikiran haji misbach bukan untuk mengiring umat mendirikan khilafah apalagi menegakkan syariah untuk apa syariah tegak dan khilafah tegak tapi berdiri diatas penindasan bagi misbach lebih penting mengajak seluruh komponen baik islam maupun non islam untuk bersatu melawan penindasan jangan Cuma memakai alasan khilafah dan syariah dengan embel-embel mesejahterahkan rakyat jika pada saat berdiri hanya mensejahterahkan segelinir golongan sementara golongan lain didokrin untuk menjadi martir mati konyol meledakkan diri dmedan juang .
      
          Mungkin pemahanan seperti tidak akan kita jumpai atau malah jarang kita temui sosok seorang tokoh islam yang bisa memadukan antara sebuah pemikiran barat dengan ajaran islam yang muaranya menjadi sebuah sintesis keislaman yang menolak diam dengan semua penindasan, sebuah pola keislaman yang didasarkan logika dan dialektika diserta pemahaman akan materialisme dengan tetap bersandarkan kepada alquran dan assunah. 

                  Sebuah golongan islam analitis bukan islam asal jadi Cuma modal baca artikel cocoklogi mencocokan suatu peristiwa dengan ajaran islam yang tidak ada analsisi sosialnya tapi  langsung disebar kemana-mana sebagai suatu fakta sehingga menyebarlah  kebencian sana sini,umat islam yang seperti itu adalah umat islam yang otaknya kurang gizi tidak berani berpikir dalam  karena takut keimananya guncang hanya menjadi tameng dari para pemimpinnya yang menggerakkannnya bagai kerbau menjadi pion  kehancuran bagi sesamanya.
          
   Berpikir yang seperti haji misbach yaitu analitis,kritis, dan interprestatif dengan disertai senjata teori sosial materialisme,dialektika,dan historis yang merupakan bahasan filsafat marxist memang relevan dengan ajaran islam yang menyuruh umatnya berpikir mendalam  seperti yang dikatakan dalam ayat alquran “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS AL BAQARAH:44).
           
          Pola pemikiran Haji Misbach soal persatuan umat pun jelas dalam hal ini dia berkata “‘Salah satoe taktiek dari imperialisme oentoek menegoehkan kedoedoekannja di tanah jang didjajahnja, adalah taktiek politiek memetjah belah, jang melemahkan kekoeatan ra’jat’. Perpecahan kadang menjadi hal yang lumrah dalam tubuh umat islam lebih gampang sepertinya menyatukan berbagai aliran kristen dalam satu meja daripada berbagai aliran islam dalam satu meja, seandainya kelompok mujahidin satu meja dengan kelompok syiah atau ahmadiyah pastilah  polisi harus ada ditengah-tengahnya,kalau tidak akan terjadi tragedi pelemparan kursi. 

             Tentu kalau Haji Misbach hidup dimasa kini dia  akan lebih malu. Melihat kyai tanahnya lebih luas ketimbang buruh tani. Menyaksikan ustadz kekayaanya melebihi jamaahnya. Jika Haji Misbach ada pasti dinamai: penghisap dan penindes. Tak mungkin mereka berbuat benar karena tindakannya tak benar. Haji Misbach minta ummatnya meluruskan tindakan salah ini ‘ terangnja kita manoesia diwadjibkan mendjaga soepaja djangan ada orang teroes meneroes melakoekan perboetan jang tidak benar…dan oelama-oelama of kijai kijai, tidak pedoeli siapa djoega djika dia poenja perboetan tidak dengan sebenarnja, kita wadjib membenarkan’. Etikanya keras, lurus dan lugas,Tak boleh berdiam diri melihat kesewenang-wenangan. Dia mencoba menghadirkan islam yang apa adanya bukan islam yang menuntut formalitas tapi islam yang menuntut sebuah reformasi dengan memberikan kesejahteraan bagi umat manusia  baik islam maupun bukan islam.
            
      Penurunan moralitas kita bukan karana kita tidak paham agama atau kita kurang memahami agama atau malah tidak pernah memahami agama tapi cara mendidik agama itu tidak benar tidak bisa kita memberikan pemahaman egoistis keagamaan pada kaum yang lebih muda selama ini terkadang, kaum muda selalu dicekoki jika islam lah agama yang benar ya secara  imajinasi memang tapi secara kenyataannya kebenaran islam juga seiring sejalan dengan kebenaran agama lain,dalam hal ini Haji Misbach memberikan argumennya yaitu soal ini.
            
    Agama itu bermaksud: petunjuk dari Tuhan yang bersifat kuasa untuk semua manusia isi dunia. Adapun Tuhan yang bersifat kuasa untuk semua manusia itu hanya satu saja, dari itu sesungguhnya agama yang sejati itu pun juga cuma satu. Tidak ada Tuhan itu dua tiga atau lebih, pun sebenarnya tidak ada dua agama yang benar.
Tersebut dalam al-Quran Karim surat Ali Imran Ayat 19, artinya:
Innaddina ‘indallohil Islam
Agama yang diakui oleh Allah itu hanya Islam saja.
Adanya ayat itu kebanyakan orang lantas merasa bahwa agama Islam itu hanya yang dibawa oleh junjungan Nabi kita Wamaulana Muhamad saw. saja. Oleh sebab itu, orang Islam ada yang besar hatinya merasa benar sendiri dan menimbulkan lain pemeluk sama terpaksa menjunjung agamanya masing-masing dan mementingkan pimpinannya sendiri-sendiri (concurantie agama). Pendapat yang semacam itu sesungguhnya gelap gulita. Adapun terangnya begini:
Agama berarti penunjuk dari Tuhan
Islam berarti selamat.
Menjadi agama Islam itu penunjuk jalan yang menuntut keselamatan.
(Islamisme dan Komunisme, 1925).


Islam dalam pandangan Misbach tidak sekadar sistem keyakinan atau ajaran (isme), tapi ’penunjuk jalan yang menuntut keselamatan.’ Pandangan mengenai agama sejati tersebut dijelaskannya kembali dalam tulisan terakhirnya, ‘Nasehat.’ Misbach berkata:

    …[A]gama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi tiga bagian: budi kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang hanya mengejar keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan budi setan yang selalu berbuat kerusakan dan keselamatan umum.’ (Nasehat, 1926). 

Pendapat Haji Misbach ini selaras dengan  ajaran islam yang menjunjung tinggi keadilan yang diterangkan dalam ayat “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS al-Mâidah (5): 8.

Lalu hubungkan dengan ayat ini
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (Tetapi) mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS al-A’râf [7]: 96)
               
           Seperti tampak di kutipan di atas, sifat egalitarianisme agama yang berpusat dari Kemahakuasaan Allah merupakan inti dari pandangan agama. Gagasan tersebut mirip tesisnya Asghar Ali Engineer tentang masyarakat tauhid. Menurut Engineer, ajaran Islam mengusung sebuah postulat tentang keadilan bagi semua masyarakat. Dalam praktiknya, pemuka Islam telah ‘membelokkan’ visi Islam dengan menjadikan yang partikular dari praktiknya Nabi Muhammad sebagai hukum umum, yang tidak dapat ditafsir ulang.

         … [B]etul mereka senantiasa menunjuk-tunjukkan keislamannya, tetapi sebetulnya cuma di atas bibir saja, mereka menjalani aturan agama Islam akan tetapi dipilih aturan yang disukai oleh hawa nafsunya saja, perintah yang tidak disukai mudah dibuangkan saja. Tegasnya, mereka melawan atau menentang perintah Tuhan Allah Sami’unalim dan takut dan cinta kepada kehendak setan yang dipengaruhkan dalam kapitalisme pada waktu sekarang ini (laknatullah, Red.) yang telah terang kejahatannya.’ (Moekmin dan Moenafik, 1922) Dari kutipan di atas, Misbach menjelaskan siapa yang dimaksud muslim sejati. Baginya, pemuka Islam yang pandai beretorika, tampak salih dan beriman, namun sekadar mengikuti hawa nafsu dan perintah setan. Sikap tersebut jauh dari Islam sejati yang ditunjukkan dengan ucapan dan perbuatan. Dengan demikian, menurut Haji Misbach, orang munafik bukan sekadar yang berpura-pura Islam, tapi pemuka Islam yang tidak rela berjuang.

          Berdasarkan artikel ini yang penuh dengan ketidaksempurnaan saya menyimpulkan bahwa Haji Misbach ibarat oase ditengah gurun sosok yang memberi pengetahuan agama sekaligus pengetauan sosok mengutip Lao Tse 6 abad sebelum masehi, “datanglah kepada rakyat (ummat-pen), hiduplah bersama mereka, belajarlah dari mereka, cintailah mereka, mulailah dari apa yang mereka tahu, dan bangunlah dari apa yang mereka punya. Apabila ummat sudah bisa melakukannya dengan mandiri, maka tugas seorang resi sudah cukup saja mengantarkan”. Di titik ini diharapkan memunculkan para kiai organik, dalam istilah Antonio Gramsci disebut intelektual organik[2], sebagai oase panutan gerakan di saat ummat-nya hidup di antara gurun kemiskinan dan ketidakadilan.

             Tapi apa kata sejarah tentang seorang Haji misbach lain karena sejarah selalu ditulis pemenang dan definisi pun ditentukan oleh pemenang sosoknya dilupakan dan berbagai pemikirannya pun dilarang untuk dibaca,dikaji,apalagi didiskusikan lebih-lebih, sosoknya bisa disetarakan dengan Gandhi,Teresa, Rumi,dan berbagai tokoh perdamaian lainnya, hanya saja beliau masuk kedalam yang terlupakan namun dibalik yang terlupakan itulah,benih-benih kebenaran muncul dari hasrat alam bawah sadar generasi kini yang mencoba sedikit mengkoreksi zaman.
                  
REFERENSI:
-           Semua kutipan ini saya tulis utuh dari dua buku yang lumayan menarik. Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Jawa 1912-1926, Grafitti, 1997 dan Dr Syamsul Bakri, Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942, LKiS, 2015.
-             Beberapa tulisan Haji Misbach dikoran yang dipimpin seperti  Moekmin dan Moenafik”, Islam Bergerak, 10 Desember 1922 dan tulisan lainnya yang karena ejaanya sangat lama sulit menafsirkan ulang.
-          Beberapa litelatur komunis yang penulis pinjam dari teman- teman pergerakan sosialis  seperti buku “ GERILYA” karya tan malaka dan tulisan-tulisan semaun dan sneevlit 

JIHADLAH UNTUK PLANETMU BUKAN UNTUK AGAMAMU

          Entah kenapa kata jihad sekarang dimaknai dengan aksi kekerasan baik oleh bom maupun oleh pemenggalan kepala,esensi islam yang awalnya  sebagai kepasrahan diri kepada sang tuhan sekarang berubah menjadi keganasan diri. Terkadang kita beragama hanya sibuk cari ribut sok peduli tapi sebenarnya   sudah masuk mencampuri urusan orang lain bukan kepedulian yang malah kita tunjukan tapi kebesaran diri yang kita tampakkan  apalagi  membantu orang pakai embel-embel  dari organisasi islam mana kita berasal.
         Kenapa islam harus begitu,kita mengembangkan konsep keagamaan yang dimana ego adalah landasan utama menjalankan ibadah. Sadar atau tidak sekarang perjuangan umat islam itu harusnya  bukan lagi soal menegakkan khilafah,menerapkan syariah formal , memperdebatkan masalah masuk surga atau neraka,masalah murtad dan tidak murtad, halal atau haram, apalagi memperdebatkan orang itu sudah islam apa belum atau yang lebih konyol memperdebatkan sesuatu yang kita klain begitu saja sebagai bagian dari agama kita sebenarnya bukan.
          Sekarang itu harusnya arah perjuangan kita berubah, masalah yang menyangkut keagamaan perlulah di diskusikan baik-baik antara ulama dan komponen umat islam lain tidak perlulah kita saling cap situ murtad,situ kafir, situ yahudi, situ syiah,situ jin,situ setan nanti ujungnya kita akan emosi lebih baik kita tenangkan diri,refleksikan nilai-nilai agama kita dengan benar jangan kita buat panas kepala lebih baik buat air panas sedu kopi bisa menghilangkan stress daripada harus berdebat tuhan mana yang benar karena nanti ujungnya kita akan sakit hati karena setiap orang itu pemahaman agamanya belum tentu sama dan belum tentu sepaham.
             Percuma kita mendirikan syariah apalagi menegakkan khilafah kalau apa yang kita tegakkan tidak merubah dengan lebih baik lingkungan atau tempat kita tinggal karena arah perjuangan sekarang menurut saya bukan berjuang untuk agama tapi berjuang untuk planet. Saya menulis hal ini karena apakah paham agama kita hanya sebatas pada teori saja dan ritual tanpa adanya implementasi,harusnya pertanyaan yang relevan bukan pada bagaimana  islam bisa mendominasi bumi tapi bagaimana islam menyelamatkan bumi dan bagaimana islam bisa mendomisasi peran dari upaya menyelematkan bumi?.
        Ini bukan soal banyak-banyakin pengikut tapi kualitas pengikut itu sendiri,bagaimana diantara sekian banyak pengikut mereka merefleksikan nilai agama untuk memberi kontribusi pada keselamatan planet.buka mata dan buka hati serta pikiran disaat orang islam teriak-teriak soal yang remeh temen disaat itu pula setiap detik ekosistem dunia hancur,percuma menegakkan hagemoni agama kita di atas planet yang sedang sakit.

        Tidak perlu di artikel ini saya jabarkan rangkain  statistik lengkap kehancuran planet karena sekarang hampir semua orang tahu ada ketidakberesan dengan planet kita tapi apakah kita mau diam,hanya duduk zikir dan berdoa untuk planet kita tapi sibuk beraksi untuk urusan yang remeh temeh. Cobalah untuk tidak berpikir kaku,berpikir yang tertutup,buka pikiran lihat dan rasakan lingkungan sekita apa rubah apa yang bisa di rubah dan janganlah mencampuri urusan orang lain daripada mencampuri urusan orang lain lebih baik rangkul mereka menjadi saudara, ajak bersama untuk melestarikan planet kita tidak harus jadi aktifis lingkungan tanpa ada organisasi lingkungan pun seharusnya itu adalah jihad kalau jihad itu  yang dalam tujuannya mempertahankan maka sesuailah dengan konteks masalah ini .

Senin, 30 November 2015

Noam Chomsky on Anarchism, Marxism & Hope for the Future


The following are excerpts of an interview with Noam Chomsky published in Issue 2 of Red & Black Revolution. RBR can be contacted at Red & Black Revolution, PO Box 1528, Dublin 8, Ireland. The interview was conducted in May 1995 by Kevin Doyle.
RBR:First off, Noam, for quite a time now you've been an advocate for the anarchist idea. Many people are familiar with the introduction you wrote in 1970 to Daniel Guerin's Anarchism, but more recently, for instance in the film Manufacturing Consent, you took the opportunity to highlight again the potential of anarchism and the anarchist idea. What is it that attracts you to anarchism?
CHOMSKY: I was attracted to anarchism as a young teenager, as soon as I began to think about the world beyond a pretty narrow range, and haven't seen much reason to revise those early attitudes since. I think it only makes sense to seek out and identify structures of authority, hierarchy, and domination in every aspect of life, and to challenge them; unless a justification for them can be given, they are illegitimate, and should be dismantled, to increase the scope of human freedom. That includes political power, ownership and management, relations among men and women, parents and children, our control over the fate of future generations (the basic moral imperative behind the environmental movement, in my view), and much else. Naturally this means a challenge to the huge institutions of coercion and control: the state, the unaccountable private tyrannies that control most of the domestic and international economy, and so on. But not only these. That is what I have always understood to be the essence of anarchism: the conviction that the burden of proof has to be placed on authority, and that it should be dismantled if that burden cannot be met. Sometimes the burden can be met. If I'm taking a walk with my grandchildren and they dart out into a busy street, I will use not only authority but also physical coercion to stop them. The act should be challenged, but I think it can readily meet the challenge. And there are other cases; life is a complex affair, we understand very little about humans and society, and grand pronouncements are generally more a source of harm than of benefit. But the perspective is a valid one, I think, and can lead us quite a long way.
Beyond such generalities, we begin to look at cases, which is where the questions of human interest and concern arise.
RBR: It's true to say that your ideas and critique are now more widely known than ever before. It should also be said that your views are widely respected. How do you think your support for anarchism is received in this context? In particular, I'm interested in the response you receive from people who are getting interested in politics for the first time and who may, perhaps, have come across your views. Are such people surprised by your support for anarchism? Are they interested?
CHOMSKY: The general intellectual culture, as you know, associates 'anarchism' with chaos, violence, bombs, disruption, and so on. So people are often surprised when I speak positively of anarchism and identify myself with leading traditions within it. But my impression is that among the general public, the basic ideas seem reasonable when the clouds are cleared away. Of course, when we turn to specific matters - say, the nature of families, or how an economy would work in a society that is more free and just - questions and controversy arise. But that is as it should be. Physics can't really explain how water flows from the tap in your sink. When we turn to vastly more complex questions of human significance, understanding is very thin, and there is plenty of room for disagreement, experimentation, both intellectual and real-life exploration of possibilities, to help us learn more.
RBR: Perhaps, more than any other idea, anarchism has suffered from the problem of misrepresentation. Anarchism can mean many things to many people. Do you often find yourself having to explain what it is that you mean by anarchism? Does the misrepresentation of anarchism bother you?
CHOMSKY: All misrepresentation is a nuisance. Much of it can be traced back to structures of power that have an interest in preventing understanding, for pretty obvious reasons. It's well to recall David Hume's Principles of Government. He expressed surprise that people ever submitted to their rulers. He concluded that since "Force is always on the side of the governed, the governors have nothing to support them but opinion. 'Tis therefore, on opinion only that government is founded; and this maxim extends to the most despotic and most military governments, as well as to the most free and most popular." Hume was very astute - and incidentally, hardly a libertarian by the standards of the day. He surely underestimates the efficacy of force, but his observation seems to me basically correct, and important, particularly in the more free societies, where the art of controlling opinion is therefore far more refined. Misrepresentation and other forms of befuddlement are a natural concomitant.
So does misrepresentation bother me? Sure, but so does rotten weather. It will exist as long as concentrations of power engender a kind of commissar class to defend them. Since they are usually not very bright, or are bright enough to know that they'd better avoid the arena of fact and argument, they'll turn to misrepresentation, vilification, and other devices that are available to those who know that they'll be protected by the various means available to the powerful. We should understand why all this occurs, and unravel it as best we can. That's part of the project of liberation - of ourselves and others, or more reasonably, of people working together to achieve these aims.
Sounds simple-minded, and it is. But I have yet to find much commentary on human life and society that is not simple-minded, when absurdity and self-serving posturing are cleared away. [...]
The Spanish Revolution
RBR: In the past, when you have spoken about anarchism, you have often emphasised the example of the Spanish Revolution. For you there would seem to be two aspects to this example. On the one hand, the experience of the Spanish Revolution is, you say, a good example of 'anarchism in action'. On the other, you have also stressed that the Spanish revolution is a good example of what workers can achieve through their own efforts using participatory democracy. Are these two aspects - anarchism in action and participatory democracy - one and the same thing for you? Is anarchism a philosophy for people's power?
CHOMSKY: I'm reluctant to use fancy polysyllables like "philosophy" to refer to what seems ordinary common sense. And I'm also uncomfortable with slogans. The achievements of Spanish workers and peasants, before the revolution was crushed, were impressive in many ways. The term 'participatory democracy' is a more recent one, which developed in a different context, but there surely are points of similarity. I'm sorry if this seems evasive. It is, but that's because I don't think either the concept of anarchism or of participatory democracy is clear enough to be able to answer the question whether they are the same.
RBR: One of the main achievements of the Spanish Revolution was the degree of grassroots democracy established. In terms of people, it is estimated that over 3 million were involved. Rural and urban production was managed by workers themselves. Is it a coincidence to your mind that anarchists, known for their advocacy of individual freedom, succeeded in this area of collective administration?
CHOMSKY: No coincidence at all. The tendencies in anarchism that I've always found most persuasive seek a highly organised society, integrating many different kinds of structures (workplace, community, and manifold other forms of voluntary association), but controlled by participants, not by those in a position to give orders (except, again, when authority can be justified, as is sometimes the case, in specific contingencies).
Democracy
RBR: Anarchists often expend a great deal of effort at building up grassroots democracy. Indeed they are often accused of "taking democracy to extremes". Yet, despite this, many anarchists would not readily identify democracy as a central component of anarchist philosophy. Anarchists often describe their politics as being about 'socialism' or being about 'the individual'- they are less likely to say that anarchism is about democracy. Would you agree that democratic ideas are a central feature of anarchism?
CHOMSKY: Criticism of 'democracy' among anarchists has often been criticism of parliamentary democracy, as it has arisen within societies with deeply repressive features. Take the US, which has been as free as any, since its origins. American democracy was founded on the principle, stressed by James Madison in the Constitutional Convention in 1787, that the primary function of government is "to protect the minority of the opulent from the majority." Thus he warned that in England, the only quasi-democratic model of the day, if the general population were allowed a say in public affairs, they would implement agrarian reform or other atrocities, and that the American system must be carefully crafted to avoid such crimes against "the rights of property," which must be defended (in fact, must prevail). Parliamentary democracy within this framework does merit sharp criticism by genuine libertarians, and I've left out many other features that are hardly subtle - slavery, to mention just one, or the wage slavery that was bitterly condemned by working people who had never heard of anarchism or communism right through the 19th century, and beyond.
Leninism
RBR:The importance of grassroots democracy to any meaningful change in society would seem to be self evident. Yet the left has been ambiguous about this in the past. I'm speaking generally, of social democracy, but also of Bolshevism - traditions on the left that would seem to have more in common with elitist thinking than with strict democratic practice. Lenin, to use a well-known example, was sceptical that workers could develop anything more than "trade union consciousness"- by which, I assume, he meant that workers could not see far beyond their immediate predicament. Similarly, the Fabian socialist, Beatrice Webb, who was very influential in the Labour Party in England, had the view that workers were only interested in "horse racing odds"! Where does this elitism originate and what is it doing on the left?
CHOMSKY:I'm afraid it's hard for me to answer this. If the left is understood to include 'Bolshevism,' then I would flatly dissociate myself from the left. Lenin was one of the greatest enemies of socialism, in my opinion, for reasons I've discussed. The idea that workers are only interested in horse-racing is an absurdity that cannot withstand even a superficial look at labour history or the lively and independent working class press that flourished in many places, including the manufacturing towns of New England not many miles from where I'm writing - not to speak of the inspiring record of the courageous struggles of persecuted and oppressed people throughout history, until this very moment. Take the most miserable corner of this hemisphere, Haiti, regarded by the European conquerors as a paradise and the source of no small part of Europe's wealth, now devastated, perhaps beyond recovery. In the past few years, under conditions so miserable that few people in the rich countries can imagine them, peasants and slum-dwellers constructed a popular democratic movement based on grassroots organisations that surpasses just about anything I know of elsewhere; only deeply committed commissars could fail to collapse with ridicule when they hear the solemn pronouncements of American intellectuals and political leaders about how the US has to teach Haitians the lessons of democracy. Their achievements were so substantial and frightening to the powerful that they had to be subjected to yet another dose of vicious terror, with considerably more US support than is publicly acknowledged, and they still have not surrendered. Are they interested only in horse-racing?
I'd suggest some lines I've occasionally quoted from Rousseau: "when I see multitudes of entirely naked savages scorn European voluptuousness and endure hunger, fire, the sword, and death to preserve only their independence, I feel that it does not behoove slaves to reason about freedom."
RBR: Speaking generally again, your own work - Deterring Democracy, Necessary Illusions, etc. - has dealt consistently with the role and prevalence of elitist ideas in societies such as our own. You have argued that within 'Western' (or parliamentary) democracy there is a deep antagonism to any real role or input from the mass of people, lest it threaten the uneven distribution in wealth which favours the rich. Your work is quite convincing here, but, this aside, some have been shocked by your assertions. For instance, you compare the politics of President John F. Kennedy with Lenin, more or less equating the two. This, I might add, has shocked supporters of both camps! Can you elaborate a little on the validity of the comparison?
CHOMSKY: I haven't actually "equated" the doctrines of the liberal intellectuals of the Kennedy administration with Leninists, but I have noted striking points of similarity - rather as predicted by Bakunin a century earlier in his perceptive commentary on the "new class." For example, I quoted passages from McNamara on the need to enhance managerial control if we are to be truly "free," and about how the "undermanagement" that is "the real threat to democracy" is an assault against reason itself. Change a few words in these passages, and we have standard Leninist doctrine. I've argued that the roots are rather deep, in both cases. Without further clarification about what people find "shocking," I can't comment further. The comparisons are specific, and I think both proper and properly qualified. If not, that's an error, and I'd be interested to be enlightened about it.
Marxism
RBR:Specifically, Leninism refers to a form of marxism that developed with V.I. Lenin. Are you implicitly distinguishing the works of Marx from the particular criticism you have of Lenin when you use the term 'Leninism'? Do you see a continuity between Marx's views and Lenin's later practices?
CHOMSKY: Bakunin's warnings about the "Red bureaucracy" that would institute "the worst of all despotic governments" were long before Lenin, and were directed against the followers of Mr. Marx. There were, in fact, followers of many different kinds; Pannekoek, Luxembourg, Mattick and others are very far from Lenin, and their views often converge with elements of anarcho-syndicalism. Korsch and others wrote sympathetically of the anarchist revolution in Spain, in fact. There are continuities from Marx to Lenin, but there are also continuities to Marxists who were harshly critical of Lenin and Bolshevism. Teodor Shanin's work in the past years on Marx's later attitudes towards peasant revolution is also relevant here. I'm far from being a Marx scholar, and wouldn't venture any serious judgement on which of these continuities reflects the 'real Marx,' if there even can be an answer to that question. [...]
RBR: From my understanding, the core part of your overall view is informed by your concept of human nature. In the past the idea of human nature was seen, perhaps, as something regressive, even limiting. For instance, the unchanging aspect of human nature is often used as an argument for why things can't be changed fundamentally in the direction of anarchism. You take a different view? Why?
CHOMSKY: The core part of anyone's point of view is some concept of human nature, however it may be remote from awareness or lack articulation. At least, that is true of people who consider themselves moral agents, not monsters. Monsters aside, whether a person who advocates reform or revolution, or stability or return to earlier stages, or simply cultivating one's own garden, takes stand on the grounds that it is 'good for people.' But that judgement is based on some conception of human nature, which a reasonable person will try to make as clear as possible, if only so that it can be evaluated. So in this respect I'm no different from anyone else.
You're right that human nature has been seen as something 'regressive,' but that must be the result of profound confusion. Is my granddaughter no different from a rock, a salamander, a chicken, a monkey? A person who dismisses this absurdity as absurd recognises that there is a distinctive human nature. We are left only with the question of what it is - a highly nontrivial and fascinating question, with enormous scientific interest and human significance. We know a fair amount about certain aspects of it - not those of major human significance. Beyond that, we are left with our hopes and wishes, intuitions and speculations.
There is nothing "regressive" about the fact that a human embryo is so constrained that it does not grow wings, or that its visual system cannot function in the manner of an insect, or that it lacks the homing instinct of pigeons. The same factors that constrain the organism's development also enable it to attain a rich, complex, and highly articulated structure, similar in fundamental ways to conspecifics, with rich and remarkable capacities. An organism that lacked such determinative intrinsic structure, which of course radically limits the paths of development, would be some kind of amoeboid creature, to be pitied (even if it could survive somehow). The scope and limits of development are logically related.
Take language, one of the few distinctive human capacities about which much is known. We have very strong reasons to believe that all possible human languages are very similar; a Martian scientist observing humans might conclude that there is just a single language, with minor variants. The reason is that the particular aspect of human nature that underlies the growth of language allows very restricted options. Is this limiting? Of course. Is it liberating? Also of course. It is these very restrictions that make it possible for a rich and intricate system of expression of thought to develop in similar ways on the basis of very rudimentary, scattered, and varied experience.
What about the matter of biologically-determined human differences? That these exist is surely true, and a cause for joy, not fear or regret. Life among clones would not be worth living, and a sane person will only rejoice that others have abilities that they do not share. That should be elementary. What is commonly believed about these matters is strange indeed, in my opinion.
Is human nature, whatever it is, conducive to the development of anarchist forms of life or a barrier to them? We do not know enough to answer, one way or the other. These are matters for experimentation and discovery, not empty pronouncements.
The future
RBR:To begin finishing off, I'd like to ask you briefly about some current issues on the left. I don't know if the situation is similar in the USA but here, with the fall of the Soviet Union, a certain demoralisation has set in on the left. It isn't so much that people were dear supporters of what existed in the Soviet Union, but rather it's a general feeling that with the demise of the Soviet Union the idea of socialism has also been dragged down. Have you come across this type of demoralisation? What's your response to it?
CHOMSKY: My response to the end of Soviet tyranny was similar to my reaction to the defeat of Hitler and Mussolini. In all cases, it is a victory for the human spirit. It should have been particularly welcome to socialists, since a great enemy of socialism had at last collapsed. Like you, I was intrigued to see how people - including people who had considered themselves anti-Stalinist and anti-Leninist - were demoralised by the collapse of the tyranny. What it reveals is that they were more deeply committed to Leninism than they believed.
There are, however, other reasons to be concerned about the elimination of this brutal and tyrannical system, which was as much "socialist" as it was "democratic" (recall that it claimed to be both, and that the latter claim was ridiculed in the West, while the former was eagerly accepted, as a weapon against socialism - one of the many examples of the service of Western intellectuals to power). One reason has to do with the nature of the Cold War. In my view, it was in significant measure a special case of the 'North-South conflict,' to use the current euphemism for Europe's conquest of much of the world. Eastern Europe had been the original 'third world,' and the Cold War from 1917 had no slight resemblance to the reaction of attempts by other parts of the third world to pursue an independent course, though in this case differences of scale gave the conflict a life of its own. For this reason, it was only reasonable to expect the region to return pretty much to its earlier status: parts of the West, like the Czech Republic or Western Poland, could be expected to rejoin it, while others revert to the traditional service role, the ex-Nomenklatura becoming the standard third world elite (with the approval of Western state-corporate power, which generally prefers them to alternatives). That was not a pretty prospect, and it has led to immense suffering.
Another reason for concern has to do with the matter of deterrence and non-alignment. Grotesque as the Soviet empire was, its very existence offered a certain space for non-alignment, and for perfectly cynical reasons, it sometimes provided assistance to victims of Western attack. Those options are gone, and the South is suffering the consequences.
A third reason has to do with what the business press calls "the pampered Western workers" with their "luxurious lifestyles." With much of Eastern Europe returning to the fold, owners and managers have powerful new weapons against the working classes and the poor at home. GM and VW can not only transfer production to Mexico and Brazil (or at least threaten to, which often amounts to the same thing), but also to Poland and Hungary, where they can find skilled and trained workers at a fraction of the cost. They are gloating about it, understandably, given the guiding values.
We can learn a lot about what the Cold War (or any other conflict) was about by looking at who is cheering and who is unhappy after it ends. By that criterion, the victors in the Cold War include Western elites and the ex-Nomenklatura, now rich beyond their wildest dreams, and the losers include a substantial part of the population of the East along with working people and the poor in the West, as well as popular sectors in the South that have sought an independent path.
Such ideas tend to arouse near hysteria among Western intellectuals, when they can even perceive them, which is rare. That's easy to show. It's also understandable. The observations are correct, and subversive of power and privilege; hence hysteria.
In general, the reactions of an honest person to the end of the Cold War will be more complex than just pleasure over the collapse of a brutal tyranny, and prevailing reactions are suffused with extreme hypocrisy, in my opinion.
Capitalism
RBR: In many ways the left today finds itself back at its original starting point in the last century. Like then, it now faces a form of capitalism that is in the ascendancy. There would seem to be greater 'consensus' today, more than at any other time in history, that capitalism is the only valid form of economic organisation possible, this despite the fact that wealth inequality is widening. Against this backdrop, one could argue that the left is unsure of how to go forward. How do you look at the current period? Is it a question of 'back to basics'? Should the effort now be towards bringing out the libertarian tradition in socialism and towards stressing democratic ideas?
CHOMSKY: This is mostly propaganda, in my opinion. What is called 'capitalism' is basically a system of corporate mercantilism, with huge and largely unaccountable private tyrannies exercising vast control over the economy, political systems, and social and cultural life, operating in close co-operation with powerful states that intervene massively in the domestic economy and international society. That is dramatically true of the United States, contrary to much illusion. The rich and privileged are no more willing to face market discipline than they have been in the past, though they consider it just fine for the general population. Merely to cite a few illustrations, the Reagan administration, which revelled in free market rhetoric, also boasted to the business community that it was the most protectionist in post-war US history - actually more than all others combined. Newt Gingrich, who leads the current crusade, represents a superrich district that receives more federal subsidies than any other suburban region in the country, outside of the federal system itself. The 'conservatives' who are calling for an end to school lunches for hungry children are also demanding an increase in the budget for the Pentagon, which was established in the late 1940s in its current form because - as the business press was kind enough to tell us - high tech industry cannot survive in a "pure, competitive, unsubsidized, 'free enterprise' economy," and the government must be its "saviour." Without the "saviour," Gingrich's constituents would be poor working people (if they were lucky). There would be no computers, electronics generally, aviation industry, metallurgy, automation, etc., etc., right down the list. Anarchists, of all people, should not be taken in by these traditional frauds.
More than ever, libertarian socialist ideas are relevant, and the population is very much open to them. Despite a huge mass of corporate propaganda, outside of educated circles, people still maintain pretty much their traditional attitudes. In the US, for example, more than 80% of the population regard the economic system as "inherently unfair" and the political system as a fraud, which serves the "special interests," not "the people." Overwhelming majorities think working people have too little voice in public affairs (the same is true in England), that the government has the responsibility of assisting people in need, that spending for education and health should take precedence over budget-cutting and tax cuts, that the current Republican proposals that are sailing through Congress benefit the rich and harm the general population, and so on. Intellectuals may tell a different story, but it's not all that difficult to find out the facts.
RBR: To a point anarchist ideas have been vindicated by the collapse of the Soviet Union - the predictions of Bakunin have proven to be correct. Do you think that anarchists should take heart from this general development and from the perceptiveness of Bakunin's analysis? Should anarchists look to the period ahead with greater confidence in their ideas and history?
CHOMSKY: I think - at least hope - that the answer is implicit in the above. I think the current era has ominous portent, and signs of great hope. Which result ensues depends on what we make of the opportunities.

[RC NOTE: In previous versions of my webpage, this was obtained by link. That link seems to be dead. Fortunately for me, I had saved the text to my disk. After some consideration--including the reflection that Chomsky's ideas are far too rarely disseminated outside a limited political circle--I decided to copy it here. I have cut a few Q&A for space. As most anarchist publications are not copyrighted, I think I'm safe, but if the copyright holder cares to contact me I will proceed accordingly. The labor of HTML markup was originally performed by Charles Munson.]

Rabu, 14 Oktober 2015

MENYEMAI BENIH KEBENARAN DALAM ISLAM DENGAN 3 NALAR

          Beberapa waktu ini  muncul sebuah gerakan yang bernama indonesia tanpa pacaran dengan alasan pacaran adalah suatu hal yang tidak dibolehkan dengan agama sehingga gerakan ini menimbulkan suatu aksi lain yaitu semangat untuk mengkafirkan mereka yang pacaran. Alasan kelompok ini adalah ayat alquran “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruk jalan”. (Al Isra’ [17] : 32) dan juga berbagai data terkait kekerasan dan pemerkosaan yang dilakukan pada saat pacaran .
         Gerakan indonesia tanpa pacaran mungkin adalah salah satu dari berbagai gerakan ke islaman yang seakan- akan terlihat objektif dan sesuai nalar jika hanya dikaji pada tataran permukaannya namun jika dikaji mendalam nalar yang mereka pakai untuk memahai ayat alquran hanya bersandar pada nalar teks atau kalau dalam bahasa studi keislamannya nalar bayani ( teks atau bahasa ) hanya memahami alquran secara tekstual saja.
         Padahal  kalimat yang berkata mendekati zina itu luas penafsirannya bukan hanya pada pacaran saja tapi  pada segala aspek perbuatan karena  pengertian zina luas kita pun harus mengambil sudut pandang bukan hanya dari yang kita yakini tapi dari yang orang lain yakini disamping itu juga zina itu bukan hanya  soal persetubuhan tapi kepada  segala perbuatan yang meninginkan suatu hal secara berlebihan dan dalam penyembahan terhadap tuhan atau illah lain yang sumber semua itu adalah dari pikiran jadi  yang harusnya dilakukan adalah gerakan  indonesia tanpa berpikiran berzina bukan indonesia tanpa pacaran karena sumber perbuatannya bukan pada pacaran tapi pada pikiran dan bicara  pikiran setiap orang terlepas dari alim maupun tidak punya sisi liar untuk berbuat zina dengan pacaran ataupun tanpa pacaran jadi hendaknya pemahaman akan teks alquran tidak didasarkan pada teks saja namun pada logika dan ilham juga , didalam artikel ini saya akan membahas pembahasan keislaman yang berlandaskan pada 3 nalar untuk menemukan kebenaran yang sejati bukan pembenaran tapi kebenaran.
         Dalam studi keislaman klasik, nalar bayani (bahasa/teks) pernah merajai cara pandang para pemikir Muslim. Ilmu gramatika Bahasa Arab seperti nahwu, sharaf, balaghah dan sejenisnya menjadi syarat mutlak yang wajib dikuasai oleh siapapun yang ingin bergulat dengan pemahaman teks wahyu Tuhan. Esensi makna di balik teks akan terkuak oleh kecakapan berbahasa (baca: Arab). Padahal, bahasa –tanpa bermaksud membuat enteng- rentan dengan keterbatasan. Paling tidak (Muhammad Abed al-Jabiri, 2003) bahasa memiliki peran mendasar dalam membatasi pandangan dan konsepsi manusia terhadap alam baik secara general maupun partikular. Apalagi ketika bahasa dijadikan alat analisis untuk mengetahui maksud Tuhan di balik kalam-Nya. Tentunya, masih terdapat banyak kelemahan. Meskipun tidak kita pungkiri, mau tidak mau harus sering bersinggungan dengan seperangkat disiplin ilmu kebahasaan, terutama Bahasa Arab, ketika berinteraksi dengan teks al-Qur’an.
         Penguasaan bahasa arab dalam konteks memahami alquran tidaklah cukup dikarena makna suatu bahasa bisa berbeda antar satu kelompok dengan kelompok lain yang perlu di ingat juga makna alquran sebelum scripto defectiva ( tidak bertanda ) kepada scriptio plena ( bertanda ) juga sangat berbeda ( Mun’im  sirry,2015) selain itu juga terlalu terpaku pada penguasaan bahasa arab akan menimbulkan efek lain dimana nantinya tidak bisa membedakan mana yang agama dan mana yang budaya sehingga banyak orang yang mengkaji islam dan disamping itu juga mempelajari hal- hal terkait arab menjadikan dirinya mengangap arab lebih superior daripada budayanya sendiri disamping  itu pemaknaan hanya berdasarkan bahasa bisa menimbulkan kesalapahaman karena akan menimbulkan pemikiran anti kritik yang dimana beranggapan jika apa yang tertulis di alquran sudah pasti benar dan harus diterapkan tanpa perlu dipertanyakan dan dikaji kembali yang terkadang menjurus pada sikap mengkafirkan dan radikalisme atau fundamentalisme.               
      Oleh karena itu, nalar bayani hendaknya ditopang kuat oleh nalar burhani (logika/akal) dan nalar ‘irfani (intuisi/ilham). Nalar burhani telah melahirkan banyak filosof Muslim dengan berbagai penemuan mutakhir pada zamannya seperti al-Kindi dan al-Farabi. Logika sebagai warisan peradaban Yunani –dengan Aristoteles sebagai penyokongnya- telah dielaborasi dua pemikir Muslim di atas sehingga mengintrodusir umat Islam untuk mendalami ilmu-ilmu alam. Sebagaimana paparan al-Jabiri, al-Kindi mengadopsi asumsi keagamaan melalui pernyataan “barunya alam”. Argumentasinya ialah isi atau volume alam adalah terbatas, waktu juga terbatas, dan gerak pun demikian. Kesimpulan dari “barunya alam” dimaksudkan bahwa Allah menciptakannya dari ketiadaan dan tanpa perantara. Allah adalah “sebab pertama yang tidak ada sebab lagi di atasnya”. Urgensi logika dalam mempengaruhi corak pemikiran Islam pada zaman abad pertengahan semakin kentara saat al-Farabi mengemukakan, “pendapat-pendapat yang ada dalam agama, menemukan dalil dan buktinya dalam filsafat teoritis”.
      Dengan mengandalkan nalar burhani akan menciptakan pemikiran islam yang berkemajuan tidak menciptakan islam yang berlandaskan pada teks semata atau asal menerima tapi menciptakan keislaman yang berlandaskan pada pemikiran kritis karena esensi dari islam sendiri adalah berpikir bukan beriman buta ini dibuktikan dengan ayat alquran pertama kali turun kepada muhammad yang memerintah untuk membaca ( iqra) dalam proses membaca tentulah bukan hanya sekedar teks tapi memahami apa yang dibaca dan apa implikasinya dari yang kita baca tersebut pada kehidupan  kita jadi islam bersandarkan pada kebebasan berpikir bukan kekakuan berpikir.
     Ternyata, kebenaran agama tidak melulu bergantung pada wujud lahiriah teks, tetapi juga perlu memasukkan dimensi burhan (akal) sebagai perangkat pertimbangan. Toh, bayani dan burhani saja tidak cukup. Unsur irfani juga memiliki peran yang tidak sedikit, terutama ketika dihadapkan pada sebuah kasuistik, di mana teks dan daya logis manusia tidak mampu lagi berbicara banyak. Para sufi merupakan representasi dari optimalisasi nalar irfani. Landasan kebenaran bersumber pada lantunan intuitif mata batinnya. Mungkin saja, sesuatu yang sudah (dianggap) “benar” oleh nalar bayani dan burhani, hakikatnya hanyalah kebenaran artifisial yang belum menyentuh substansi. Terma manunggaling kawula gusti, wihdat al wujud, mahabbah, dzauq, kassyaf, ma’rifat adalah sedikit contoh dari konstruksi pemikiran kaum sufi dalam menjalin relasi seorang hamba terhadap Tuhannya.

     Dunia tasawuf memang bukan segalanya untuk menyingkap kebenaran. Lebih-lebih, di tengah kultur ilmiah yang dibangun atas pondasi materialisme-positivistik, perkembangan Ilmu Tasawuf mengalami stagnasi. Tasawuf semakin eksklusif. Tasawuf abai dengan realitas sosial. Tasawuf terjebak pada kepentingan individualistik; antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Segmentasi kajian sufistik didominasi kaum tua, komunitas kaum uzur yang entah berapa lama lagi akan hidup di dunia. Sementara kaum muda yang digadang-gadang menjadi tonggak peradaban suatu bangsa, tetap asyik terninabobok-an oleh budaya hedon adapun sebagain kaum muda hanya fokus pada nalar bayani saja dengan mengembangkan sikap superioritas dalam beragama dengan merongrong budaya bangsa sendiri dan bersikap diskriminatif terhadap pihak lain  yang dimana itu semua adalah Budaya kelezatan sesaat tanpa kesejatian. Entah kapan nalar bayani, burhani, dan ‘irfani bisa ditempatkan pada konteks yang tepat dalam menyemai benih kebenaran? Wallahu a’lamu bi al-shawab.[]