Pada malam jam 21.00 sampai pada jam 02.00 waktu paris tepatnya pada tanggal 13 dan 14 nopember 2015,menjadi malam jahanam bagi warga kota mode bagaimana tidak malam yang penuh keceriaan saat semua orang paris berkumpul dipusat-pusat hiburan dikejutkan dengan serangan brutal dari mulai bom bunuh diri,penyanderaan,sampai yang paling tragis adalah pembantaian di sebuah lokasi konser bernama Bataclan.
Esok harinya simpati dunia mengalir untuk tragedi paris yang datang dari berbagai golongan suku,ras,dan agama yang bersatu padu memberi solidaritas pada korban tragedi paris dan tidak butuh waktu lama identitas pelaku teror pun terungkap meski belum jelas siapa pelakunya pada saat itu berdasarkan pengamatan penulis menyaksikan EURO news dan 24english France tv serta berbagai chanel pemberitaan baik asing maupun lokal beberapa waktu setelah serangan penduduk paris yang diwawancarai meyakini kelompok yang menyerang itu adalah kelompok yang sama yang menyerang Redaksi majalah Charlie Hebdo jangankan penduduk prancis,media pun sudah pasang headline memastikan bahwa kelompok yang sama kembali menyerang jauh sebelum identifikasi resmi dari kepolisian muncul dan sesuai dengan dugaan tidak berselang lama tim Anti teror prancis mengungkapkan pelaku penyerangan Yang bernama Abdelhamid Abaaoud yang notebene berasal dari etnis yang sama dan beragama yang sama dengan pelaku penyerangan Charlie Hebdo,kebetulan juga agama pelaku sama dengan agama penulis hanya ras dan sukunya saja yang berbeda.
Selang beberapa waktu setelah tragedi,reaksi keras dari tokoh agama yang kebetulan agamanya sama dengan si pelaku mengecam dan mengutuk tindakan terorisme atas nama agama dan reaksi juga datang dari para pemeluk agama yang sama dengan si pelaku. berbagai reaksi spontan pun berdatang dari dunia agama yang bersangkutan dari mulai membuat Banner " we are not teroris" aksi di sosial media dengan hastag #NOT IN MY NAME sampai kepada eksperiment peluk dimana ada seorang penganut agama yang sama dengan pelaku dan juga penulis yang berdiri ditengah keramaian kota paris dengan mata tertutup dan didekatnya ada tulisan "HUG ME IAM NOT TERORIST" dan sontak banyak yang bersimpati dan memeluk orang itu dan eksperimen yang sama pun ada diberbagai belahan dunia untuk menarik simpati jika KITA BUKANLAH BAGIAN DARI MEREKA selain itu juga ada berbagai macam artikel yang ditulis dari akademisi ataupun masyarakat awam dari agama yang sama dengan yang dianut penulis dan pelaku tentang bagaimana agama ini sesungguhnya mengajari perdamaian.
Memang benar bahwa kita yang memeluk agama ini meskipun agamanya sama bukanlah bagian dari mereka yang barbar tapi apakah cukup hanya menjelaskan KITA BUKANLAH BAGIAN DARI MEREKA di bibir saja atau hanya sekedar menulis saja membeberkan hal yang baik-baik saja kalau kita bilang agama yang kita anut tidak mengajarkan apa yang pelaku perbuat mari coba cek di ayat pada agama kita banyak sekali ayat yang merupakan dasar bagi tindakan pelaku.
COntohnya Surat Albaqoroh, ayat 191,Surat Albaqoroh, ayat 193,Surat Albaqoroh, ayat 216, Surat An nisa’, ayat 84,Surat Al maidah, ayat 33,Surat Al anfal, ayat 12, Surat Al anfal, ayat 17, dan masih banyak lagi ayat yang identik mengajarkan kekerasan dan bisa ditafsirkan untuk melakukan suatu tindakan teror bukan bermaksud untuk merendakan AYAT SUCI ALLAH tapi penulis perhatikan tidak banyak yang tahu akan ayat - ayat yang dipakai teroris untuk melancarkan aksinya mereka hanya disuguhi ayat-ayat yang enak dibaca sesuai dengan kondisi psikologis mereka saja toh jika dikaji lagi perjuangan mereka untuk berjihad pun pastilah ada landasan yang kuat.
Selama ini penulis pun suka membaca majalan dabiq yang merupakan majalah dari isis dan beberapa majalah radikal lainnya salah satu kutipan dimajalah itu mereka menyatakan bahwa agama yang saya anut ini adalah agama pedang karena dasarnya adalah melawan kebatilan. bahkan dimajalah-majalah itu tercantum banyak hadis dan ayat yang membenarkan apa yang mereka lakukan toh kalau kia berani jujur dan menyelidiki lebih dalam kita akan shock bahwa mereka sadar secara keimanan dengan apa yang mereka pelajari dan apa yang mereka praktikan jangankan lewat majalan kita buka situs yang berhubungan dengan agama kita pun banyak yang membenarkan tindakan mereka ya paling ada beberapa situs yang menyatakan kelompok isis bukan islam tapi disatu sisi mereka menyanjung kelompok lain yang beda-beda tipis dengan isis sebagai pejuang ya sama saja.
selama ini paling banter kita hanya bilang agama kita sudah dibajak kalau dibajak apa iya hmm dibajak dalam segi apa? kenapa hanya agama ini yang bisa terjadi pembajakan kenapa tidak diagama lain toh diagama lain tidak terjadi pembajakan kalau kita menganggap mereka bukan bagian dari agama kita toh mereka sepanjang hidupnya menjalankan perintah agama yang jauh lebih rajin dari kita,katakanlah sejak usia muda mereka sudah paham ilmu agama yang tinggi diatas kita.
Jadi kenyataannya toh mereka bagian dari kita dan merupakan saudara seiman kita,dan mereka berjuang untuk tegaknya agama kita meskipun caranya kita nilai salah tapi toh tidak ada pembuktian jika mereka bukan bagian dari kita toh mereka berjuang dengan menjunjung dua buku suci yang juga kita imani. selain itu juga terkadang kita ini penuh kemunafikan disatu sisi kita mengecam tindakan mereka tapi tindakan kita pun sebenarnya sama dengan tindakan mereka hanya saja masih dibawah level tindakan mereka toh tidak menutup kemungkinan kita akan melalukan hal sama saat mendengar nama agama kita di caci maki apalagi nama Nabi kita dihujat.
Bukannya wajah seperti abdelhamid abaoud,abu bakar al bagdadi leader of isis,osama bin ladin,Umar farouk,jihadi john, dan nama-nama beken lainnya yang merupakan pejuang modern agama kita yang beken karena aksinya yang kita anggap keluar dari batasan ,justru ada manifestasi dalam negara kita, ya kita bisa melihat bagaimana kerasnya umat agama kita saat ada gesekan sedikitit. pastilah bukan negosiasi yang diutamakan tapi bogem mentah yang melayang ya setidaknya itu selevel dengan apa yang pejuang-pejuang modern yang saya sebutkan tadi lakukan,hanya saja level tindakan kita beda tapi masih dalam satu presentasi level yang dasarnya sama dan jelas berlandaskan pada dua buku suci yang kita yakini kebenarannnya 100 %.
Jadi tidak tidak usahlah malu mengakui kalau kita satu keimanan dengan mereka secara tauhid ya kita sama tapi mungkin sikap dan tindakan saja kita berbeda tapi kalau dilihat lebih dalam lagi pun sikap dan tindakan kita pun mungkin akan mengekor mereka saat kita berada pada posisi terancam keimanan ataupun mendapatkan dokrin yang bisa menjeremuskan ,NAH UNTUK SOal dokrin mungkin ada argumen yang berkata " ah mereka jadi teroris kan karena salah dokrin" bisa kita balikkan tannya " memang karena dokrin tapi bukannya dokrinnya juga bersumber pada dua buku suci yang sama-sama kita yakini,kenapa bisa 2 buku suci itu dijadikan landasan dokrin padahal buku suci diagama lain tidak bisa mendokrin orang menjadi seorang bomber tapi kenapa sukses dengan 2 buku suci kita" pastilah jika kita memberi argumen balik seperti itu langsung dicap bukan bagian dari agama dan main cap itu ya selevel dengan tindakan mereka hanya saja beda tingkatan.
Kalau kita berargumen " memang ada ayat- ayat yang mengajarkan itu tapi kan itu ada konteksnya" saya ingin balik bertanya seberapa berani kita mencoba merekonstruksi ajaran dalam agama kita sendiri sehingga ayat yang sudah tidak relevan lagi tersingkirkan tanpa memicu suatu polemik toh kenyataanny ayat-ayat itu masih populer digunakan sebagai penguat militansi masa agar menjadi siap mati demi agama. Nah membahas soal rekonstruksi ajaran pun pastilah tidak ada keberanian dalam otak kita toh selama ini memang kita diajarkan berdasarkan dokrin bukan nalar kritis karena memang tidak salah juga ketika ada argumen soal terorisme itu salah dokrin atau bahaya ada dokrin terorisme toh dokrin adalah salah satu media pengajaran keimanan dan sumber dokrinpun dari 2 buku suci jadi secara akar kita sama antara kita yang non teroris dengan mereka yang teroris.
Kita bisa saja menjabarkan berbagai macam teori konspirasi dan pemutar balikkan fakta bahwa perbuatan itu ITS NOT MY NAME ( TIDAK BERDASARKAN NAMA SAYA ) tapi satu sisi kita mengkagumi kelompok lain yang bertindak serupa dengan kelompok yang kita kecam misalnya saja ada orang yang benci pada isis tapi dia mengkagumi perjuanagan bangsa palestina misalnya hamas yang mengirim roket ke israel dan melakuukan penikaman di Jerussalem. ya kalau secara logika kelompok pertama dan kedua tidak ada bedanya sama-sama saja basisnya kekerasan jadi toh kita hanya membenci satu merek tapi suka merek lain karena kesukaan kita pada dasarnya hanya pada produk yang sama dalam hal ini keagamaan kita didasarkan pada hagemoni yang dasarnya diajarkan lewat dokrinisasi yang berdasarkan kelompok kita vs kelompok mereka. Kalau nanti ada peristiwa yang melibatkan saudara seiman kita justru kita akan berkilah itu bukan bagian dari agama saya itu bukan dia itu sudah menyimpang toh faktanya dia bersandar pada 2 buku suci dan pemahaman agamanya pun pastilah jauh dari kita meskipun caranya salah toh kalau kita buktikan lebih dalam tidak ada bukti jika mereka bukan bagian dari kita hanya saja kita malu mengakuinya karena ketidakberanian kita untuk mengakui sebuah kesalahan.
Satu lagi kalau kita bilang agama yang kita anut mengajarkan toleransi toh dalam perjalanannya pun toleransi sendiri kontroversial karena banyak batasan dalam bertoleransi tidak boleh ini tidak boleh toh kita bertoleransi pada sesama tapi kenyataannya didalam hati kita meyakini apa yang dianut oleh teman kita itu adalah sesat , bisa dikatakan toleransi hanya dibibir. kalau kita katakan perbuatan mereka melawan negara karena agama kita mengajarkan kita mencintai negara itu artinya kita kurang memahami lebih dalam agama kita,karena kalau kita pahami lebih dalam bukan satu kesimpulan yang kita dapat tapi bisa lebih dari dua kesimpulan yang kita dapat,dalam ajaran agama kita cinta negara itu memang ada tapi kan cinta negara dalam konteks negara yang bersandarkan pada ajaran agama kita, jadi kalau tidak ya itu sama saja thogut atau tunduk pada kuasa pemerintah kafir.
ALangkah indahnya daripada kita bicara berkilah dan menyerang berbagai macam opini yang menyebut itu adalah ajaran islam dan bilang mereka bukan bagian dari agama kita lebih baik kalau kita bicara dan menulis seperti ini " kepada masyarakat paris dan korban teror akibat perbuatan saudara-saudara seimanku sudi kiranya kalian membuka pintu maaf kepada saudara-saudara kami yang meskipun caranya salah karena dia hanya berjuang bersandarkan pada apa yang tertulis pada 2 buku suci kami secara kontekstual,jika kalian ada ke inginan untuk mengkritik dan mengkoreksi bagaimana bagusnya ajaran kami depannya dalam konteks dunia modern ini kami menerimannya, karena satu-satunya jalan bagi kami untuk membersihkan agama kami dari unsur-unsur jelek yang sudah ditimbulkan pelaku dan kelompoknya adalah lewat keterbukaan diri,kami siap menerima hujatan,diskriminasi, atau hal jelek apapun karena bagi kami itu lumrah dan wajar dalam proses untuk menjelaskan hal yang benar dan hal yang salah ,dan kamipun bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan sanak saudara kalian yang tercinta, karena kami pun punya hati merasakan.
tulisan ini saya buat hanya sebagai refleksi dari emosi terdalam saya
sebagai penganut agama yang baik saya tidak malu mengakui bahwa
isis,alqaeda,hamas,jabhat alnusra,mujahidin moro,atau apapun grupnya adalah saudara seiman saya
yang ingin saya sampaikan pada mereka
salam perdamaian
hargai perbedaan
saya cinta kalian sebagai satu ukhuwah
untuk kalian yang bilang mereka bukan saudara seimana kita
coba bicara didepan mereka
#RISIKO DITANGGUNG SENDIRI
tapi setidaknya cobalah bangun pendapat berdasarkan nalar kritis dan refleksi diri
untuk kalian yang bilang mereka bukan saudara seimana kita
coba bicara didepan mereka
#RISIKO DITANGGUNG SENDIRI
tapi setidaknya cobalah bangun pendapat berdasarkan nalar kritis dan refleksi diri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar