Rabu, 16 Desember 2015

BELAJAR ISLAM DARI TOKOH PKI

    

      PKI mendengar nama ini pastilah banyak orang indonesia akan mengerutkan dahi membayangkan kekejian,pengkhianatan, dan hal negatif lainnya . PKI sebuah partai yang sepak terjangnya sangat kontroversial diindonesia, partai berlambang palu arit yang berdiri sejak tahun mei 1914 sampai kehancuran pada tahun 1965 , berbagai kontroversial dari yang menimbulkan pro dan kontra bertebaran dimasyarakat, mempertanyakan dan mencoba mengetahui siapa sebenarnya orang-orang dibalik Partai itu selalu menjadi hal yang dilarang karena doktrin yang sudah mendarah daging.
        
      Salah satu doktrin populer soal pki adalah pahamnya yang katanya anti tuhan awalnya saya percaya akan perkataan ini karena sejak sd sampai sma saya selalu di beberkan sejarah soal pki yang menyerang pondok pesantren namun seiring sejalan pergaulan saya dengan aktifis kiri dari kubu sosialis dari Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi dan Persatuan mahasiswa sosialis menjadikan pemahaman saya berubah, rekan saya berujar pada saya kalau pki itu anti tuhan terus sarikat islam yang menjadi awalnya pki dimana banyak ulama disitu yang tergabung jadi semuanya anti tuhan lalu dia menambahkan apa definisi anti tuhan, sebuah perenungan intelektual bagi saya apakah mereka yang sudah bertuhan sudah benar bertuhan atau ada sikap anti tuhan didalamnya.

         
         Dari situ saya mendapatkan pemahaman baru soal bagaimana sejarah sudah diputar balikkan sama seperti sejarah islam awal yang di ungkapkan Munim Shiri dalam bukunya kontroversi islam awal dimana dia menyatakan sejarah islam banyak ditutupi dan diputarbalikkan begitupun juga dengan sejarah soal pki.

          Dokrin soal anti agama yang melekat pada pki justru tidak benar sama sekali,pemahaman ini saya dapatkan ketika saya membaca litelatur tokoh-tokoh awal pki yang sangat islam sekali dan bukan hanya sebatas islam identitas tapi islam revolusioner sekaligus intelektualis. Tokoh-tokoh seperti  Tan Malaka islam intelektualis yang melalangbuana menulis berbagai macam pemikiran hebat untuk revolusi indonesia, Semaun sosok pengusaha muslim yang pasang badan  membela kepentingan pribumi dari kekejaman belanda, Haji Misbach tokoh pki yang membantu pribumu dalam bidang pendidikan dan sosial melawan hagemoni belanda, Datuk batuah dan Natar Zainudin  dua sosok haji dari sumatra barat yang mengkonsepkan ajaran islam untuk perbaikan sosial masyarakat pribumi melawan hagemoni belanda,Muso anak ulama besar yang pandai kitab kuning dan bahasa rusia serta dekat dengan pemimpin rusia stalin, dan masih banyak lagi.

     Salah satu tokoh islam dari kalangan pki yang mempengaruhi intelektualitas saya adalah haji misbach mungkin kalau dia hidup dizaman ini sudah pasti dia harus angkat kaki dari solo  karena dianggap murtad, yahudi,sesat, syiah, atau lain sebagainya. mungkin namanya tidak terlalu populer dikalangan rakyat indonesia sekarang karena sekarang orientasi masyarakat indonesia khususnya yang islam  bukan kepada tokoh islam berintelektual tapi tokoh islam yang garang, banyak masa, dan bisa jadi menarik perhatian meskipun ceramahnya kandungannya standar.  Haji misbach adalah seorang tokoh komunis awal yang lahir di solo pada tahun 1876 di alun-alun kauman tempat yang sama dimana pendiri muhammadiyah Ahmad Dahlan membangun organisasinya Muhammadiyah, bernama asli ahmad pada masa kecil dan berganti nama menjadi darmodiprono lalu kemudian setelah berhaji mengganti namanya menjadi haji muhammad misbah dan seiring keaktifkan pada golongan komunis beliau mendapat julukan haji merah.
           

         Haji Misbach bukan sosok haji yang lebay dan hobi pamer kesombongan akan kesolehan dalam sebuah pidatonya dikongres sarekat islam yang menjadi cikal bakal lahirnya PKI,beliau menyatakan “ saya bukan haji tapi Mohammad Misbach,seorang jawa , yang teah memenuhi kewajibannya sebagai muslim dengan melakukan perjalanan suci kemekkah dan madinah” . sebuah perkataan yang menggambarkan kepribadiannya tidak sombong dan lebih menekankan esensi daripada simbolisme gelar haji, seberapa banyak tokoh yang menyandang gelar haji bisa berpikiran yang sama seperti misbach tidak menjadikan hajinya sebagai perpanjangan dari kesombongan diri dan merendahkan orang lain. Selain soal haji yang menurutnya bukanlah sebuah gelar kebangsaan yang dimana orang harus tunduk dan menciumi tangannya kemana-mana,untuk soal pakaian pun beliau haji misbach berdasarkan apa kata temannya Marco Kartodikromo, seorang wartawan yang juga seorang aktivis kebangkitan nasional asal Hindia-Belanda pada saat itu, berkisah tentang Misbach:
       
 ".. Di Pemandangan Misbach tidak ada beda di antara seorang pencuri biasa dengan orang yang dikata berpangkat, begitu juga di antara rebana dan klenengan, di antara bok Haji yang bertutup muka dan orang bersorban cara Arab dan berkain kepala cara Jawa. Dan sebab itu dia lebih gemar memakai kain kepala dari pada memakai peci Turki atau bersorban seperti pakaian kebanyakan orang yang disebut "Haji".  Digambarkan sosok haji misbach tidak hobi bersorban apalagi berpeci mungkin jika dia hidup dizaman sekarang dia sudah otomatis murtad namum  disitu haji misbach ingin mengajarkan untuk tidak sombong dan untuk tidak ego karena  orang sebenarnya tidak lihat agamamu tapi akhlakmu biarlah agamamu itu urusanmu dengan tuhan tapi bagamana akhlakmu itu urusanmu dengan manusia,soal  ajaran untuk menjadi tidak sombong dari haji misbach ini sesuai dengan ayat alquran “dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung (Q.S Al-Isra’:  37).

           Haji Misbach juga coba mengajarkan antara kesesuaian keagamaan kita dengan perilaku kita percuma kita ngaku islam tapi tindakan kita tidak mencerminkan, dalam sebuah pendapatnya lagi haji misbach menyatakan bahwa Islam tak bisa berdiam diri saksikan eksploitasi. Melawan itu merupakan inti ajaran jihad fi sabilillah: “Sabil itu adalah atoeran Islam jang penting dan mudjarab. Menang dari perang sabil tentoe oentoeng, mati karena sabilpoen keoentoengan jang besar dalam achirat’ Bisa saja menganggap Misbach itu komunis, tapi melalui bahasa agama, Haji Misbach membuat Islam jadi agama seperti semula: menghadang penindasan dan melawan kesewenang-wenangan.
       
          Pemikiran haji misbach bukan untuk mengiring umat mendirikan khilafah apalagi menegakkan syariah untuk apa syariah tegak dan khilafah tegak tapi berdiri diatas penindasan bagi misbach lebih penting mengajak seluruh komponen baik islam maupun non islam untuk bersatu melawan penindasan jangan Cuma memakai alasan khilafah dan syariah dengan embel-embel mesejahterahkan rakyat jika pada saat berdiri hanya mensejahterahkan segelinir golongan sementara golongan lain didokrin untuk menjadi martir mati konyol meledakkan diri dmedan juang .
      
          Mungkin pemahanan seperti tidak akan kita jumpai atau malah jarang kita temui sosok seorang tokoh islam yang bisa memadukan antara sebuah pemikiran barat dengan ajaran islam yang muaranya menjadi sebuah sintesis keislaman yang menolak diam dengan semua penindasan, sebuah pola keislaman yang didasarkan logika dan dialektika diserta pemahaman akan materialisme dengan tetap bersandarkan kepada alquran dan assunah. 

                  Sebuah golongan islam analitis bukan islam asal jadi Cuma modal baca artikel cocoklogi mencocokan suatu peristiwa dengan ajaran islam yang tidak ada analsisi sosialnya tapi  langsung disebar kemana-mana sebagai suatu fakta sehingga menyebarlah  kebencian sana sini,umat islam yang seperti itu adalah umat islam yang otaknya kurang gizi tidak berani berpikir dalam  karena takut keimananya guncang hanya menjadi tameng dari para pemimpinnya yang menggerakkannnya bagai kerbau menjadi pion  kehancuran bagi sesamanya.
          
   Berpikir yang seperti haji misbach yaitu analitis,kritis, dan interprestatif dengan disertai senjata teori sosial materialisme,dialektika,dan historis yang merupakan bahasan filsafat marxist memang relevan dengan ajaran islam yang menyuruh umatnya berpikir mendalam  seperti yang dikatakan dalam ayat alquran “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS AL BAQARAH:44).
           
          Pola pemikiran Haji Misbach soal persatuan umat pun jelas dalam hal ini dia berkata “‘Salah satoe taktiek dari imperialisme oentoek menegoehkan kedoedoekannja di tanah jang didjajahnja, adalah taktiek politiek memetjah belah, jang melemahkan kekoeatan ra’jat’. Perpecahan kadang menjadi hal yang lumrah dalam tubuh umat islam lebih gampang sepertinya menyatukan berbagai aliran kristen dalam satu meja daripada berbagai aliran islam dalam satu meja, seandainya kelompok mujahidin satu meja dengan kelompok syiah atau ahmadiyah pastilah  polisi harus ada ditengah-tengahnya,kalau tidak akan terjadi tragedi pelemparan kursi. 

             Tentu kalau Haji Misbach hidup dimasa kini dia  akan lebih malu. Melihat kyai tanahnya lebih luas ketimbang buruh tani. Menyaksikan ustadz kekayaanya melebihi jamaahnya. Jika Haji Misbach ada pasti dinamai: penghisap dan penindes. Tak mungkin mereka berbuat benar karena tindakannya tak benar. Haji Misbach minta ummatnya meluruskan tindakan salah ini ‘ terangnja kita manoesia diwadjibkan mendjaga soepaja djangan ada orang teroes meneroes melakoekan perboetan jang tidak benar…dan oelama-oelama of kijai kijai, tidak pedoeli siapa djoega djika dia poenja perboetan tidak dengan sebenarnja, kita wadjib membenarkan’. Etikanya keras, lurus dan lugas,Tak boleh berdiam diri melihat kesewenang-wenangan. Dia mencoba menghadirkan islam yang apa adanya bukan islam yang menuntut formalitas tapi islam yang menuntut sebuah reformasi dengan memberikan kesejahteraan bagi umat manusia  baik islam maupun bukan islam.
            
      Penurunan moralitas kita bukan karana kita tidak paham agama atau kita kurang memahami agama atau malah tidak pernah memahami agama tapi cara mendidik agama itu tidak benar tidak bisa kita memberikan pemahaman egoistis keagamaan pada kaum yang lebih muda selama ini terkadang, kaum muda selalu dicekoki jika islam lah agama yang benar ya secara  imajinasi memang tapi secara kenyataannya kebenaran islam juga seiring sejalan dengan kebenaran agama lain,dalam hal ini Haji Misbach memberikan argumennya yaitu soal ini.
            
    Agama itu bermaksud: petunjuk dari Tuhan yang bersifat kuasa untuk semua manusia isi dunia. Adapun Tuhan yang bersifat kuasa untuk semua manusia itu hanya satu saja, dari itu sesungguhnya agama yang sejati itu pun juga cuma satu. Tidak ada Tuhan itu dua tiga atau lebih, pun sebenarnya tidak ada dua agama yang benar.
Tersebut dalam al-Quran Karim surat Ali Imran Ayat 19, artinya:
Innaddina ‘indallohil Islam
Agama yang diakui oleh Allah itu hanya Islam saja.
Adanya ayat itu kebanyakan orang lantas merasa bahwa agama Islam itu hanya yang dibawa oleh junjungan Nabi kita Wamaulana Muhamad saw. saja. Oleh sebab itu, orang Islam ada yang besar hatinya merasa benar sendiri dan menimbulkan lain pemeluk sama terpaksa menjunjung agamanya masing-masing dan mementingkan pimpinannya sendiri-sendiri (concurantie agama). Pendapat yang semacam itu sesungguhnya gelap gulita. Adapun terangnya begini:
Agama berarti penunjuk dari Tuhan
Islam berarti selamat.
Menjadi agama Islam itu penunjuk jalan yang menuntut keselamatan.
(Islamisme dan Komunisme, 1925).


Islam dalam pandangan Misbach tidak sekadar sistem keyakinan atau ajaran (isme), tapi ’penunjuk jalan yang menuntut keselamatan.’ Pandangan mengenai agama sejati tersebut dijelaskannya kembali dalam tulisan terakhirnya, ‘Nasehat.’ Misbach berkata:

    …[A]gama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi tiga bagian: budi kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang hanya mengejar keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan budi setan yang selalu berbuat kerusakan dan keselamatan umum.’ (Nasehat, 1926). 

Pendapat Haji Misbach ini selaras dengan  ajaran islam yang menjunjung tinggi keadilan yang diterangkan dalam ayat “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS al-Mâidah (5): 8.

Lalu hubungkan dengan ayat ini
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (Tetapi) mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS al-A’râf [7]: 96)
               
           Seperti tampak di kutipan di atas, sifat egalitarianisme agama yang berpusat dari Kemahakuasaan Allah merupakan inti dari pandangan agama. Gagasan tersebut mirip tesisnya Asghar Ali Engineer tentang masyarakat tauhid. Menurut Engineer, ajaran Islam mengusung sebuah postulat tentang keadilan bagi semua masyarakat. Dalam praktiknya, pemuka Islam telah ‘membelokkan’ visi Islam dengan menjadikan yang partikular dari praktiknya Nabi Muhammad sebagai hukum umum, yang tidak dapat ditafsir ulang.

         … [B]etul mereka senantiasa menunjuk-tunjukkan keislamannya, tetapi sebetulnya cuma di atas bibir saja, mereka menjalani aturan agama Islam akan tetapi dipilih aturan yang disukai oleh hawa nafsunya saja, perintah yang tidak disukai mudah dibuangkan saja. Tegasnya, mereka melawan atau menentang perintah Tuhan Allah Sami’unalim dan takut dan cinta kepada kehendak setan yang dipengaruhkan dalam kapitalisme pada waktu sekarang ini (laknatullah, Red.) yang telah terang kejahatannya.’ (Moekmin dan Moenafik, 1922) Dari kutipan di atas, Misbach menjelaskan siapa yang dimaksud muslim sejati. Baginya, pemuka Islam yang pandai beretorika, tampak salih dan beriman, namun sekadar mengikuti hawa nafsu dan perintah setan. Sikap tersebut jauh dari Islam sejati yang ditunjukkan dengan ucapan dan perbuatan. Dengan demikian, menurut Haji Misbach, orang munafik bukan sekadar yang berpura-pura Islam, tapi pemuka Islam yang tidak rela berjuang.

          Berdasarkan artikel ini yang penuh dengan ketidaksempurnaan saya menyimpulkan bahwa Haji Misbach ibarat oase ditengah gurun sosok yang memberi pengetahuan agama sekaligus pengetauan sosok mengutip Lao Tse 6 abad sebelum masehi, “datanglah kepada rakyat (ummat-pen), hiduplah bersama mereka, belajarlah dari mereka, cintailah mereka, mulailah dari apa yang mereka tahu, dan bangunlah dari apa yang mereka punya. Apabila ummat sudah bisa melakukannya dengan mandiri, maka tugas seorang resi sudah cukup saja mengantarkan”. Di titik ini diharapkan memunculkan para kiai organik, dalam istilah Antonio Gramsci disebut intelektual organik[2], sebagai oase panutan gerakan di saat ummat-nya hidup di antara gurun kemiskinan dan ketidakadilan.

             Tapi apa kata sejarah tentang seorang Haji misbach lain karena sejarah selalu ditulis pemenang dan definisi pun ditentukan oleh pemenang sosoknya dilupakan dan berbagai pemikirannya pun dilarang untuk dibaca,dikaji,apalagi didiskusikan lebih-lebih, sosoknya bisa disetarakan dengan Gandhi,Teresa, Rumi,dan berbagai tokoh perdamaian lainnya, hanya saja beliau masuk kedalam yang terlupakan namun dibalik yang terlupakan itulah,benih-benih kebenaran muncul dari hasrat alam bawah sadar generasi kini yang mencoba sedikit mengkoreksi zaman.
                  
REFERENSI:
-           Semua kutipan ini saya tulis utuh dari dua buku yang lumayan menarik. Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Jawa 1912-1926, Grafitti, 1997 dan Dr Syamsul Bakri, Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942, LKiS, 2015.
-             Beberapa tulisan Haji Misbach dikoran yang dipimpin seperti  Moekmin dan Moenafik”, Islam Bergerak, 10 Desember 1922 dan tulisan lainnya yang karena ejaanya sangat lama sulit menafsirkan ulang.
-          Beberapa litelatur komunis yang penulis pinjam dari teman- teman pergerakan sosialis  seperti buku “ GERILYA” karya tan malaka dan tulisan-tulisan semaun dan sneevlit 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar