PKI mendengar nama ini pastilah banyak
orang indonesia akan mengerutkan dahi membayangkan kekejian,pengkhianatan, dan
hal negatif lainnya . PKI sebuah partai yang sepak terjangnya sangat
kontroversial diindonesia, partai berlambang palu arit yang berdiri sejak tahun
mei 1914 sampai kehancuran pada tahun 1965 , berbagai kontroversial dari yang
menimbulkan pro dan kontra bertebaran dimasyarakat, mempertanyakan dan mencoba
mengetahui siapa sebenarnya orang-orang dibalik Partai itu selalu menjadi hal
yang dilarang karena doktrin yang sudah mendarah daging.
Salah satu doktrin populer soal pki
adalah pahamnya yang katanya anti tuhan awalnya saya percaya akan perkataan ini
karena sejak sd sampai sma saya selalu di beberkan sejarah soal pki yang
menyerang pondok pesantren namun seiring sejalan pergaulan saya dengan aktifis
kiri dari kubu sosialis dari Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi dan Persatuan
mahasiswa sosialis menjadikan pemahaman saya berubah, rekan saya berujar pada
saya kalau pki itu anti tuhan terus sarikat islam yang menjadi awalnya pki
dimana banyak ulama disitu yang tergabung jadi semuanya anti tuhan lalu dia
menambahkan apa definisi anti tuhan, sebuah perenungan intelektual bagi saya
apakah mereka yang sudah bertuhan sudah benar bertuhan atau ada sikap anti
tuhan didalamnya.
Dari situ saya mendapatkan pemahaman baru soal
bagaimana sejarah sudah diputar balikkan sama seperti sejarah islam awal yang
di ungkapkan Munim Shiri dalam bukunya kontroversi islam awal dimana dia menyatakan
sejarah islam banyak ditutupi dan diputarbalikkan begitupun juga dengan sejarah
soal pki.
Dokrin soal anti agama yang
melekat pada pki justru tidak benar sama sekali,pemahaman ini saya dapatkan
ketika saya membaca litelatur tokoh-tokoh awal pki yang sangat islam sekali dan
bukan hanya sebatas islam identitas tapi islam revolusioner sekaligus
intelektualis. Tokoh-tokoh seperti Tan
Malaka islam intelektualis yang melalangbuana menulis berbagai macam pemikiran
hebat untuk revolusi indonesia, Semaun sosok pengusaha muslim yang pasang
badan membela kepentingan pribumi dari
kekejaman belanda, Haji Misbach tokoh pki yang membantu pribumu dalam bidang
pendidikan dan sosial melawan hagemoni belanda, Datuk batuah dan Natar
Zainudin dua sosok haji dari sumatra
barat yang mengkonsepkan ajaran islam untuk perbaikan sosial masyarakat pribumi
melawan hagemoni belanda,Muso anak ulama besar yang pandai kitab kuning dan
bahasa rusia serta dekat dengan pemimpin rusia stalin, dan masih banyak lagi.
Salah satu tokoh islam dari
kalangan pki yang mempengaruhi intelektualitas saya adalah haji misbach mungkin
kalau dia hidup dizaman ini sudah pasti dia harus angkat kaki dari solo karena dianggap murtad, yahudi,sesat, syiah,
atau lain sebagainya. mungkin namanya tidak terlalu populer dikalangan rakyat
indonesia sekarang karena sekarang orientasi masyarakat indonesia khususnya
yang islam bukan kepada tokoh islam
berintelektual tapi tokoh islam yang garang, banyak masa, dan bisa jadi menarik
perhatian meskipun ceramahnya kandungannya standar. Haji misbach adalah seorang
tokoh komunis awal yang lahir di solo pada tahun 1876 di alun-alun kauman
tempat yang sama dimana pendiri muhammadiyah Ahmad Dahlan membangun
organisasinya Muhammadiyah, bernama asli ahmad pada masa kecil dan berganti
nama menjadi darmodiprono lalu kemudian setelah berhaji mengganti namanya
menjadi haji muhammad misbah dan seiring keaktifkan pada golongan komunis beliau
mendapat julukan haji merah.
Haji Misbach bukan sosok haji yang
lebay dan hobi pamer kesombongan akan kesolehan dalam sebuah pidatonya
dikongres sarekat islam yang menjadi cikal bakal lahirnya PKI,beliau menyatakan
“ saya
bukan haji tapi Mohammad Misbach,seorang jawa , yang teah memenuhi kewajibannya
sebagai muslim dengan melakukan perjalanan suci kemekkah dan madinah” . sebuah
perkataan yang menggambarkan kepribadiannya tidak sombong dan lebih menekankan
esensi daripada simbolisme gelar haji, seberapa banyak tokoh yang menyandang
gelar haji bisa berpikiran yang sama seperti misbach tidak menjadikan hajinya
sebagai perpanjangan dari kesombongan diri dan merendahkan orang lain. Selain soal haji yang menurutnya
bukanlah sebuah gelar kebangsaan yang dimana orang harus tunduk dan menciumi
tangannya kemana-mana,untuk soal pakaian pun beliau haji misbach berdasarkan
apa kata temannya Marco Kartodikromo, seorang wartawan yang juga seorang
aktivis kebangkitan nasional asal Hindia-Belanda pada saat itu, berkisah
tentang Misbach:
".. Di Pemandangan
Misbach tidak ada beda di antara seorang pencuri biasa dengan orang yang dikata
berpangkat, begitu juga di antara rebana dan klenengan, di antara bok Haji yang
bertutup muka dan orang bersorban cara Arab dan berkain kepala cara Jawa. Dan
sebab itu dia lebih gemar memakai kain kepala dari pada memakai peci Turki atau
bersorban seperti pakaian kebanyakan orang yang disebut "Haji". Digambarkan sosok haji misbach tidak hobi
bersorban apalagi berpeci mungkin jika dia hidup dizaman sekarang dia sudah
otomatis murtad namum disitu haji
misbach ingin mengajarkan untuk tidak sombong dan untuk tidak ego karena orang sebenarnya tidak lihat agamamu tapi
akhlakmu biarlah agamamu itu urusanmu dengan tuhan tapi bagamana akhlakmu itu
urusanmu dengan manusia,soal ajaran
untuk menjadi tidak sombong dari haji misbach ini sesuai dengan ayat alquran “dan janganlah kamu berjalan di muka bumi
ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus
bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung (Q.S
Al-Isra’: 37).
Haji Misbach juga coba
mengajarkan antara kesesuaian keagamaan kita dengan perilaku kita percuma kita
ngaku islam tapi tindakan kita tidak mencerminkan, dalam sebuah pendapatnya
lagi haji misbach menyatakan bahwa Islam tak bisa berdiam diri saksikan
eksploitasi. Melawan itu merupakan inti ajaran jihad fi sabilillah: “Sabil itu adalah atoeran Islam jang
penting dan mudjarab. Menang dari perang sabil tentoe oentoeng, mati karena
sabilpoen keoentoengan jang besar dalam achirat’ Bisa saja menganggap
Misbach itu komunis, tapi melalui bahasa agama, Haji Misbach membuat Islam jadi
agama seperti semula: menghadang penindasan dan melawan kesewenang-wenangan.
Pemikiran haji misbach bukan untuk
mengiring umat mendirikan khilafah apalagi menegakkan syariah untuk apa syariah
tegak dan khilafah tegak tapi berdiri diatas penindasan bagi misbach lebih
penting mengajak seluruh komponen baik islam maupun non islam untuk bersatu
melawan penindasan jangan Cuma memakai alasan khilafah dan syariah dengan
embel-embel mesejahterahkan rakyat jika pada saat berdiri hanya
mensejahterahkan segelinir golongan sementara golongan lain didokrin untuk
menjadi martir mati konyol meledakkan diri dmedan juang .
Mungkin pemahanan seperti tidak
akan kita jumpai atau malah jarang kita temui sosok seorang tokoh islam yang
bisa memadukan antara sebuah pemikiran barat dengan ajaran islam yang muaranya
menjadi sebuah sintesis keislaman yang menolak diam dengan semua penindasan,
sebuah pola keislaman yang didasarkan logika dan dialektika diserta pemahaman
akan materialisme dengan tetap bersandarkan kepada alquran dan assunah.
Sebuah golongan islam analitis bukan
islam asal jadi Cuma modal baca artikel cocoklogi mencocokan suatu peristiwa
dengan ajaran islam yang tidak ada analsisi sosialnya tapi langsung disebar kemana-mana sebagai suatu
fakta sehingga menyebarlah kebencian
sana sini,umat islam yang seperti itu adalah umat islam yang otaknya kurang
gizi tidak berani berpikir dalam karena takut
keimananya guncang hanya menjadi tameng dari para pemimpinnya yang
menggerakkannnya bagai kerbau menjadi pion
kehancuran bagi sesamanya.
Berpikir yang seperti haji misbach
yaitu analitis,kritis, dan interprestatif dengan disertai senjata teori sosial
materialisme,dialektika,dan historis yang merupakan bahasan filsafat marxist
memang relevan dengan ajaran islam yang menyuruh umatnya berpikir mendalam seperti yang dikatakan dalam ayat alquran “Mengapa kamu suruh orang lain
(mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri,
padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS AL
BAQARAH:44).
Pola pemikiran Haji Misbach soal
persatuan umat pun jelas dalam hal ini dia berkata “‘Salah satoe taktiek dari imperialisme oentoek menegoehkan
kedoedoekannja di tanah jang didjajahnja, adalah taktiek politiek memetjah
belah, jang melemahkan kekoeatan ra’jat’. Perpecahan kadang menjadi hal
yang lumrah dalam tubuh umat islam lebih gampang sepertinya menyatukan berbagai
aliran kristen dalam satu meja daripada berbagai aliran islam dalam satu meja,
seandainya kelompok mujahidin satu meja dengan kelompok syiah atau ahmadiyah
pastilah polisi harus ada
ditengah-tengahnya,kalau tidak akan terjadi tragedi pelemparan kursi.
Tentu kalau Haji Misbach hidup
dimasa kini dia akan lebih malu. Melihat
kyai tanahnya lebih luas ketimbang buruh tani. Menyaksikan ustadz kekayaanya
melebihi jamaahnya. Jika Haji Misbach ada pasti dinamai: penghisap dan
penindes. Tak mungkin mereka berbuat benar karena tindakannya tak benar. Haji
Misbach minta ummatnya meluruskan tindakan salah ini ‘ terangnja kita manoesia
diwadjibkan mendjaga soepaja djangan ada orang teroes meneroes melakoekan perboetan
jang tidak benar…dan oelama-oelama of kijai kijai, tidak pedoeli siapa djoega
djika dia poenja perboetan tidak dengan sebenarnja, kita wadjib membenarkan’. Etikanya
keras, lurus dan lugas,Tak boleh berdiam diri melihat kesewenang-wenangan. Dia mencoba
menghadirkan islam yang apa adanya bukan islam yang menuntut formalitas tapi
islam yang menuntut sebuah reformasi dengan memberikan kesejahteraan bagi umat
manusia baik islam maupun bukan islam.
Penurunan moralitas kita bukan
karana kita tidak paham agama atau kita kurang memahami agama atau malah tidak
pernah memahami agama tapi cara mendidik agama itu tidak benar tidak bisa kita
memberikan pemahaman egoistis keagamaan pada kaum yang lebih muda selama ini
terkadang, kaum muda selalu dicekoki jika islam lah agama yang benar ya
secara imajinasi memang tapi secara
kenyataannya kebenaran islam juga seiring sejalan dengan kebenaran agama
lain,dalam hal ini Haji Misbach memberikan argumennya yaitu soal ini.
Agama itu bermaksud: petunjuk dari Tuhan yang bersifat kuasa untuk
semua manusia isi dunia. Adapun Tuhan yang bersifat kuasa untuk semua manusia
itu hanya satu saja, dari itu sesungguhnya agama yang sejati itu pun juga cuma
satu. Tidak ada Tuhan itu dua tiga atau lebih, pun sebenarnya tidak ada dua
agama yang benar.
Tersebut dalam al-Quran Karim surat Ali Imran Ayat 19, artinya:
Innaddina ‘indallohil Islam
Agama yang diakui oleh Allah itu hanya Islam saja.
Adanya ayat itu kebanyakan orang lantas merasa bahwa agama Islam itu
hanya yang dibawa oleh junjungan Nabi kita Wamaulana Muhamad saw. saja. Oleh
sebab itu, orang Islam ada yang besar hatinya merasa benar sendiri dan
menimbulkan lain pemeluk sama terpaksa menjunjung agamanya masing-masing dan
mementingkan pimpinannya sendiri-sendiri (concurantie agama). Pendapat yang
semacam itu sesungguhnya gelap gulita. Adapun terangnya begini:
Agama berarti penunjuk dari Tuhan
Islam berarti selamat.
Menjadi agama Islam itu penunjuk jalan yang menuntut keselamatan.
(Islamisme dan Komunisme, 1925).
Islam dalam pandangan Misbach
tidak sekadar sistem keyakinan atau ajaran (isme), tapi ’penunjuk jalan yang
menuntut keselamatan.’ Pandangan mengenai agama sejati tersebut dijelaskannya
kembali dalam tulisan terakhirnya, ‘Nasehat.’ Misbach berkata:
…[A]gama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi
dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi
tiga bagian: budi kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan
dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang hanya mengejar
keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan budi setan yang selalu berbuat
kerusakan dan keselamatan umum.’ (Nasehat, 1926).
Pendapat Haji Misbach ini selaras
dengan ajaran islam yang menjunjung
tinggi keadilan yang diterangkan dalam ayat
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah
sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku
tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan
bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” QS al-Mâidah (5): 8.
Lalu hubungkan dengan ayat ini
وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ
وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ
وَلَكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah
Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (Tetapi)
mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya.” (QS al-A’râf [7]: 96)
Seperti tampak di kutipan di atas, sifat
egalitarianisme agama yang berpusat dari Kemahakuasaan Allah merupakan inti
dari pandangan agama. Gagasan tersebut mirip tesisnya Asghar Ali Engineer
tentang masyarakat tauhid. Menurut Engineer, ajaran Islam mengusung sebuah
postulat tentang keadilan bagi semua masyarakat. Dalam praktiknya, pemuka Islam
telah ‘membelokkan’ visi Islam dengan menjadikan yang partikular dari
praktiknya Nabi Muhammad sebagai hukum umum, yang tidak dapat ditafsir ulang.
… [B]etul mereka senantiasa menunjuk-tunjukkan keislamannya, tetapi
sebetulnya cuma di atas bibir saja, mereka menjalani aturan agama Islam akan
tetapi dipilih aturan yang disukai oleh hawa nafsunya saja, perintah yang tidak
disukai mudah dibuangkan saja. Tegasnya, mereka melawan atau menentang perintah
Tuhan Allah Sami’unalim dan takut dan cinta kepada kehendak setan yang
dipengaruhkan dalam kapitalisme pada waktu sekarang ini (laknatullah, Red.)
yang telah terang kejahatannya.’ (Moekmin dan Moenafik, 1922) Dari kutipan
di atas, Misbach menjelaskan siapa yang dimaksud muslim sejati. Baginya, pemuka
Islam yang pandai beretorika, tampak salih dan beriman, namun sekadar mengikuti
hawa nafsu dan perintah setan. Sikap tersebut jauh dari Islam sejati yang
ditunjukkan dengan ucapan dan perbuatan. Dengan demikian, menurut Haji Misbach,
orang munafik bukan sekadar yang berpura-pura Islam, tapi pemuka Islam yang
tidak rela berjuang.
Berdasarkan artikel ini yang
penuh dengan ketidaksempurnaan saya menyimpulkan bahwa Haji Misbach ibarat oase
ditengah gurun sosok yang memberi pengetahuan agama sekaligus pengetauan sosok
mengutip Lao Tse 6 abad sebelum masehi, “datanglah
kepada rakyat (ummat-pen), hiduplah bersama mereka, belajarlah dari mereka,
cintailah mereka, mulailah dari apa yang mereka tahu, dan bangunlah dari apa
yang mereka punya. Apabila ummat sudah bisa melakukannya dengan mandiri, maka
tugas seorang resi sudah cukup saja mengantarkan”. Di titik ini diharapkan
memunculkan para kiai organik, dalam istilah Antonio Gramsci disebut
intelektual organik[2], sebagai oase panutan gerakan di saat ummat-nya hidup di
antara gurun kemiskinan dan ketidakadilan.
Tapi apa kata sejarah tentang
seorang Haji misbach lain karena sejarah selalu ditulis pemenang dan definisi
pun ditentukan oleh pemenang sosoknya dilupakan dan berbagai pemikirannya pun dilarang
untuk dibaca,dikaji,apalagi didiskusikan lebih-lebih, sosoknya bisa disetarakan
dengan Gandhi,Teresa, Rumi,dan berbagai tokoh perdamaian lainnya, hanya saja
beliau masuk kedalam yang terlupakan namun dibalik yang terlupakan
itulah,benih-benih kebenaran muncul dari hasrat alam bawah sadar generasi kini
yang mencoba sedikit mengkoreksi zaman.
REFERENSI:
-
Semua
kutipan ini saya tulis utuh dari dua buku yang lumayan menarik. Takashi
Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Jawa 1912-1926, Grafitti, 1997 dan Dr
Syamsul Bakri, Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942, LKiS, 2015.
-
Beberapa
tulisan Haji Misbach dikoran yang dipimpin seperti Moekmin dan Moenafik”, Islam Bergerak, 10
Desember 1922 dan tulisan lainnya yang karena ejaanya sangat lama sulit
menafsirkan ulang.
-
Beberapa litelatur komunis yang penulis pinjam
dari teman- teman pergerakan sosialis
seperti buku “ GERILYA” karya tan malaka dan tulisan-tulisan semaun dan
sneevlit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar